Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Seputar Berita Terkini

Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Di Madura, Sapeh (sapi-red) adalah bagian dari budaya. Selain karapan sapi, orang Madura mempunyai budaya yang juga melibatkan sapi, yaitu sapi sonok atau kontes kecantikan sapi betina. Kendati demikian, pada umumnya orang lebih mengenal karapan sapi daripada sapi sonok. Padahal, kontes sapi betina adalah warisan budaya. Pada ajang itulah sapi betina dihias bak ratu kecantikan dengan dandanan menarik.

Budayawan Madura D. Zawawi Imron mengatakan istilah sapi sonok juga dikenal sebagai sapi lotrengan. Pada intinya, antara sapi sonok dan sapi lotrengan tak berbeda. Ada yang menamakan sapi sonok dengan nama sapi pajhangan (sapi yang dipajang-red). Sapi sonok, sapi lotrengan, dan sapi pajhangan mempunyai kesamaan dalam hal perawatan. Perawatan sapi-sapi itu sangat menghewankan hewan.

Penghargaan orang Madura terhadap sapi dilatarbelakangi oleh kultur agraris dalam mengolah lahan pertanian. Sapi adalah salah satu faktor terpenting dalam pertanian dan kebudayaan orang Madura. Karena itu, saat musim kemarau biasanya ada acara hiburan dengan menggunakan sapi. Acara itu, menurut Zawawi, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan. Kehadiran sapi sonok bisa menjadi local genius berharga dalam memperkaya warisan budaya nenek moyang Madura.

Sudah saatnya kontes sapi sonok dimasukkan ke dalam agenda pariwisata, sama seperti karapan sapi. Sesuatu yang tidak bertentangan dengan warisan nenek moyang bisa digalakkan di tengah masyarakat, tutur pria yang juga penyair itu. Budaya sapi sonok dinilainya sebagai budaya yang menjauhkan masyarakat dari unsur penganiayaan terhadap hewan. Jika di Spanyol ada matador, di Madura ada sapi sonok dan karapan sapi.


Sapi-sapi yang akan dilombakan

Hiburan di musim panen
Kami berhasil menemui pengurus (IPSAS) Ikatan Pelestari Sapi Sonok Sumenep, di Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk yang juga sering kali terlibat dalam kepanitiaan kontes sapi sonok mengatakan bahwa Acara-acara tersebut digelar sebagai sarana menjalin persahabatan antar penggemar sapi sonok. Kontes yang diselenggarakan biasanya tidak mencari pemenang. Semua sapi yang ikut kontes mendapatkan hadiah trofi dan bingkisan. Yang penting dalam kontes itu adalah menggalang persahabatan di antara penggemar sapi sonok di Sumenep dan sekitarnya, tutur Ketua Panitia Kontes Sapi Sonok, Mohammad Hafid.

Sepasang sapi betina dari berbagai umur dihias dengan kain beludru merah, kayu ukir bentaos dari Karduluk (sentra ukiran Sumenep), dan pengiring pemusik tradisional saronen. Semua itu disajikan agar sapi tampak cantik. Biasanya sapi-sapi itu akan beradu cantik dalam rangka memperingati hari-hari besar nasional, seperti hari 17 agustus, hari Kartini dan sekaligus menyambut musim tanam tembakau.

Sebelum tampil di arena kontes, seluruh sapi dikenalkan kepada seluruh pengunjung. Kontes semacam itu pun berarti harapan masyarakat agar musim tanam tahun ini berjalan lancar. Disamping itu ada iringan musik saronen sebelum kontes dimulai yang merupakan musik khas Madura (yang di antaranya terdiri atas bunyi-bunyian selompret dari kayu jati). Biasanya tidak hanya sapi yang dihias seperti pengantin, tetapi kelompok pemusik saronen juga dihias dengan seragam warna-warni menarik perhatian.


Penulis (paling kanan) turut menyaksikan perlombaan sapi sonok

Kriteria Penilaian Kontes
Penilaian dewan juri didasarkan pada sejumlah ketentuan yang disepakati bersama sebelumnya. Ketentuan yang harus dilakukan oleh setiap pasang sapi sonok di antaranya adalah waktu perjalanan mulai berangkat hingga selesai dalam dua menit, tidak boleh kurang dan tidak boleh melebihi batas.

Jika sepasang sapi berjalan kurang dari dua menit sampai selesai atau melebihi batas waktu, dewan juri akan mengurangi lima angka. Setiap kali sepasang sapi sonok menyentuh garis lintasan, juri berhak memberi sanksi pengurangan lima angka. Sementara sapi yang berbalik arah dinyatakan gagal atau didiskualifikasi.

Penilaian terbaik diberikan kepada sepasang sapi yang berjalan lurus serasi sepanjang jalur 25 meter. Setelah itu sepasang sapi harus naik panggung yang terbuat dari papan, dengan menginjakkan dua kaki depannya di atas papan. Tepat di bibir papan kayu, dua kaki depan sepasang sapi harus serasi diam menunggu penilaian dewan juri. Bila kaki tidak pas menginjak papan panggung, penilaian bisa berkurang. Begitu pun jika sepasang kaki depan sapi bergerak-gerak tidak tenang, penilaian akan berkurang.

Kriteria penilaian ini berlaku untuk semua kelas. Baik kelas kecil (empe) kelas menengah maupun kelas Dewasa. Pembedaan kelas itu didasarkan pada umur masing-masing sapi, tergantung bagaimana ketentuan kelas yang akan diberlakukan panitia pada saat kontes. Dalam hal pengadaan kontes sapi sonok siapapun boleh menjadi sponshor atau penyelenggara termasuk juga barangkali koran PDHI mau mensponshorinya eatore saos (silahkan saja), tutur pengurus senior IPSAS, Mohammad Hafid mengakhiri ceritanya tentang sapi sonok Madura.** (SLM)

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by