|
Seputar
Berita Terkini

Sapi
Sonok, Kontes Sapi Betina
Di Madura, Sapeh (sapi-red) adalah bagian dari budaya. Selain
karapan sapi, orang Madura mempunyai budaya yang juga melibatkan
sapi, yaitu sapi sonok atau kontes kecantikan sapi betina.
Kendati demikian, pada umumnya orang lebih mengenal karapan
sapi daripada sapi sonok. Padahal, kontes sapi betina adalah
warisan budaya. Pada ajang itulah sapi betina dihias bak ratu
kecantikan dengan dandanan menarik.
Budayawan
Madura D. Zawawi Imron mengatakan istilah sapi sonok juga
dikenal sebagai sapi lotrengan. Pada intinya, antara sapi
sonok dan sapi lotrengan tak berbeda. Ada yang menamakan sapi
sonok dengan nama sapi pajhangan (sapi yang dipajang-red).
Sapi sonok, sapi lotrengan, dan sapi pajhangan mempunyai kesamaan
dalam hal perawatan. Perawatan sapi-sapi itu sangat menghewankan
hewan.
Penghargaan
orang Madura terhadap sapi dilatarbelakangi oleh kultur agraris
dalam mengolah lahan pertanian. Sapi adalah salah satu faktor
terpenting dalam pertanian dan kebudayaan orang Madura. Karena
itu, saat musim kemarau biasanya ada acara hiburan dengan
menggunakan sapi. Acara itu, menurut Zawawi, sekaligus sebagai
bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan. Kehadiran sapi
sonok bisa menjadi local genius berharga dalam memperkaya
warisan budaya nenek moyang Madura.
Sudah
saatnya kontes sapi sonok dimasukkan ke dalam agenda pariwisata,
sama seperti karapan sapi. Sesuatu yang tidak bertentangan
dengan warisan nenek moyang bisa digalakkan di tengah masyarakat,
tutur pria yang juga penyair itu. Budaya sapi sonok dinilainya
sebagai budaya yang menjauhkan masyarakat dari unsur penganiayaan
terhadap hewan. Jika di Spanyol ada matador, di Madura ada
sapi sonok dan karapan sapi.

Sapi-sapi
yang akan dilombakan
Hiburan
di musim panen
Kami berhasil menemui pengurus (IPSAS) Ikatan Pelestari Sapi
Sonok Sumenep, di Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk
yang juga sering kali terlibat dalam kepanitiaan kontes sapi
sonok mengatakan bahwa Acara-acara tersebut digelar sebagai
sarana menjalin persahabatan antar penggemar sapi sonok. Kontes
yang diselenggarakan biasanya tidak mencari pemenang. Semua
sapi yang ikut kontes mendapatkan hadiah trofi dan bingkisan.
Yang penting dalam kontes itu adalah menggalang persahabatan
di antara penggemar sapi sonok di Sumenep dan sekitarnya,
tutur Ketua Panitia Kontes Sapi Sonok, Mohammad Hafid.
Sepasang
sapi betina dari berbagai umur dihias dengan kain beludru
merah, kayu ukir bentaos dari Karduluk (sentra ukiran Sumenep),
dan pengiring pemusik tradisional saronen. Semua itu disajikan
agar sapi tampak cantik. Biasanya sapi-sapi itu akan beradu
cantik dalam rangka memperingati hari-hari besar nasional,
seperti hari 17 agustus, hari Kartini dan sekaligus menyambut
musim tanam tembakau.
Sebelum
tampil di arena kontes, seluruh sapi dikenalkan kepada seluruh
pengunjung. Kontes semacam itu pun berarti harapan masyarakat
agar musim tanam tahun ini berjalan lancar. Disamping itu
ada iringan musik saronen sebelum kontes dimulai yang merupakan
musik khas Madura (yang di antaranya terdiri atas bunyi-bunyian
selompret dari kayu jati). Biasanya tidak hanya sapi yang
dihias seperti pengantin, tetapi kelompok pemusik saronen
juga dihias dengan seragam warna-warni menarik perhatian.

Penulis
(paling kanan) turut menyaksikan perlombaan sapi sonok
Kriteria
Penilaian Kontes
Penilaian dewan juri didasarkan pada sejumlah ketentuan yang
disepakati bersama sebelumnya. Ketentuan yang harus dilakukan
oleh setiap pasang sapi sonok di antaranya adalah waktu perjalanan
mulai berangkat hingga selesai dalam dua menit, tidak boleh
kurang dan tidak boleh melebihi batas.
Jika
sepasang sapi berjalan kurang dari dua menit sampai selesai
atau melebihi batas waktu, dewan juri akan mengurangi lima
angka. Setiap kali sepasang sapi sonok menyentuh garis lintasan,
juri berhak memberi sanksi pengurangan lima angka. Sementara
sapi yang berbalik arah dinyatakan gagal atau didiskualifikasi.
Penilaian
terbaik diberikan kepada sepasang sapi yang berjalan lurus
serasi sepanjang jalur 25 meter. Setelah itu sepasang sapi
harus naik panggung yang terbuat dari papan, dengan menginjakkan
dua kaki depannya di atas papan. Tepat di bibir papan kayu,
dua kaki depan sepasang sapi harus serasi diam menunggu penilaian
dewan juri. Bila kaki tidak pas menginjak papan panggung,
penilaian bisa berkurang. Begitu pun jika sepasang kaki depan
sapi bergerak-gerak tidak tenang, penilaian akan berkurang.
Kriteria
penilaian ini berlaku untuk semua kelas. Baik kelas kecil
(empe) kelas menengah maupun kelas Dewasa. Pembedaan kelas
itu didasarkan pada umur masing-masing sapi, tergantung bagaimana
ketentuan kelas yang akan diberlakukan panitia pada saat kontes.
Dalam hal pengadaan kontes sapi sonok siapapun boleh menjadi
sponshor atau penyelenggara termasuk juga barangkali koran
PDHI mau mensponshorinya eatore saos (silahkan saja), tutur
pengurus senior IPSAS, Mohammad Hafid mengakhiri ceritanya
tentang sapi sonok Madura.** (SLM)
|