Edisi 008
Agustus 2006

Artikel Utama
Buat Apa Ikut PDHI?

Peternakan Rakyat Berbasis Pemanfaatan Limbah

Dokter Kandungan Sapi

Sains
Chlamydia pneumoniae Penyebab Penyakit Kardiovaskuler

Seri Continuing Education
Antara CE, Vet Family Gathering dan Kongres PDHI

Seputar Berita Terkini
Sapi Sonok, Kontes Sapi Betina

Klinik
Orangutan Care Center and Quarantine

Dari Anda
Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Dari Anda

Tidak Harus Kaya Untuk Menjadi Filantrop


Oleh:
Drh. Ova Indri

Pernah baca kisah pendiri bisnis raksasa kelas dunia Konosuke Matsushite?

Bahwa sebagai seorang bisnisman tulen di akhir hayatnya menyumbang US$ 291 juta dari uang pribadinya dan US$ 99 juta dari kas perusahaan untuk dana kemanusiaan.Dengan motto bisnis "Life isn't only bread" (dibaca : hidup bukanlah sekedar untuk sepotong brownies).

Itu yang dari negeri samurai yang memang sudah jauh lebih maju dari kita.Bagaimana dengan negara kita yang berdasarkan survey UCLA "berhasil" menduduki peringkat 3 negara paling korup setelah Bangladesh dan Myanmar? Hai…please,jangan underestimate gitu dong! Baca majalah Swa edisi 07/XXII dengan topik "Bos, Bos Filantrop" Uhuiii…benar-benar mengagumkan, di saat negeri ini bergelut dengan carut-marut krisis multidimensi yang berkepanjangan, justru mereka berlomba-lomba untuk lebih bermanfaat bagi orang lain.

Deretan para eksekutif ternyata sangat serius untuk menjadi Filantrop.Tentu saja akan signifikan dengan usaha menjadi sukses.Karena dengan semakin sukses bisnis yang dijalani (berarti profit meningkat) maka dana untuk kegiatan Filantropi semakin lancar pula. Ditulis, Jacqueline Michelle Sampoerna dengan Sampoerna Foundation yang dikelola layaknya perusahaan telah menyalurkan beasiswa kepada lebih dari 18 ribu orang dari pendidikan dasar sampai jenjang pasca sarjana. Tidak mau kalah dari deretan artis Dik Doang mendirikan Sekolah Alam…Gratis !

Oh well, mereka berlebih kan? Tentu saja. Dan tidak harus menjadi sesukses mereka kalau kita merasa mampu berbuat (maaf bukannya meragukan kemampuan sendiri untuk menjadi sesukses contoh-contoh diatas tapi daripada lumutan menunggu sesuatu yang belum jelas, apa enggak lebih efektif kita segera lakukan dan hadapi apa yang ada di depan mata).

Seorang pembaca majalah Chic yang keberatan menyebutkan nama karena khawatir menodai niat ikhlas dihati menulis bahwa sudah satu tahun ini tiap Sabtu -Minggu dia isi dengan kegiatan berkeliling di kawasan kumuh untuk sekedar memberi buku bacaan anak-anak kepada mereka yang kurang beruntung kemudian mengajari cara membuat tulisan bisa puisi atau cerpen tentang dunia sehari-hari mereka. Setelah edit sana sini kemudian dikirim ke majalah anak-anak. Beberapa sudah dimuat. Ketika ditunjukkan karya mereka dihargai dan diapresiasi semangat mereka untuk berkarya lagi sangat luar biasa.

So, adakah alasan lain untuk kita menunda sesuatu yang indah menjadi lebih indah dan bermakna untuk orang lain? Tidak harus menjadi jutawan untuk "keinginan memberi". Dibutuhkan semangat kuat untuk memulai, ide cemerlang dan kerja cerdas untuk mewujudkan. Percayalah, walau badai menghadang (asal bukan Katrina) karena semangat dalam hati adalah untuk menuju/taqarrub kepada Al Wahab Allah Yang Maha Memberi, maka akan dimudahkan usaha kita.

Ayo kita mulai menjadi Filantrop dari diri sendiri dan saat ini juga.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by