|
Sains

Chlamydia
pneumoniae Penyebab Penyakit-Penyakit Kardiovaskuler
Oleh: Drh. Sri Murwani Atinia, M.P.
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Arterosklerosis masih merupakan penyakit yang banyak
mendapat perhatian. Sekitar 39% kematian penduduk di UK dan
12 juta di US disebabkan oleh penyakit-penyakit yang ada hubungannya
dengan aterosklerosis. Berdasarkan penelitian WHO diperoleh
data bahwa 20% kasus kematian di seluruh dunia diakibatkan
oleh penyakit yang didasari oleh aterosklerosis seperti stroke,
myocard infark (ischemic heart disease). Dilaporkan bahwa
lebih dari separo kematian setiap tahun di Amerika disebabkan
oleh aterosklrosis, dan lebih dari 500.000 orang meninggal
setiap tahun karena infark miokardial. Di Indonesia dilaporkan
angka kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit kardiovaskuler
semakin meningkat setiap tahunnya.
Aterosklerosis
merupakan penyakit karena membesar atau menebalnya muskuler
arteri, dan karakterstik adanya disfungsi endotel, inflamasi
vaskuler, akumulasi lipid, kolesterol, kalsium, debris seluler
dalam intima dinding pembuluh darah. Akumulasi tersebut menyebabkan
terbentuknya plak, remodeling vaskuler, obstruksi luminal
akut atau khronik, abnormalitas aliran darah, dan menurunnya
suplai oksigen pada organ target.
Aterosklerosis
masih merupakan penyakit yang banyak mendapat perhatian akan
tetapi prevalensi aterosklerosis sulit ditentukan, dikarenakan
sebagian besar bersifat asimptomatis. Proses aterosklerosis
dimulai sejak anak-anak, dan sejak itu perkembangan garis
lemak tetap berlangsung. Pernah ditemukan lesi aterosklerotik
di orta bayi, dan dikatakan lesi berkembang setelah umur 8-18
tahun, menjadi lesi bentuk lanjut pada umur 25 tahun, dan
biasanya manifestasi klinik penyakit akan muncul pada umur
50-60 tahun, yang disebabkan karena terjadinya disrupsi plak.
Disrupsi plak aterosklerotik dalam arteri koronari, baik yang
disebabkan oleh erosi atau ruptur plak memegang peran dalam
perkembangan "sindroma arteri koronari". Sindroma arteri kronari
secara klinis tidak terdeteksi, sampai timbulnya stenosis
(sumbatan) atau thrombosis, yang melanjut terjadinya gangguan
aliran darah dan iskemia miokardial. Secara klinis nampak
sebagai "pektoris angina, infark miokardial akut dan kematian
mendadak karena penyakit kardiak".
Infark
miokardial (IM) diartikan sebagai matinya atau nekrosis sel-sel
miokardial, dapat terjadi pada semua umur, tetapi angka kejadian
meningkat sesuai dengan bertambahnya umur. Kejadian IM tergantung
pada faktor-faktor predisposisi aterosklerosis (hiperlepidemi,
diabetes mellitus, hipertensi, merokok, pria, dan keluarga
yang mempunyai riwayat penyakit aterosklerotik arteria) (Bajzer,
diakses tahun 2004). Akhir-akhir ini banyak diteliti hubungan
infark miokardial dengan infeksi mikroorganisme. Agen-agen
infeksius yang banyak diteliti dan terbukti dapat menyebabkan
aterosklerosis adalah Chlamydia pneumoniae, Herpes simplex
virus, Helicobacter pylori, Cytomegalovirus dan bakteri periodontitis.
Sebagian besar IM merupakan hasil rupturnya plak aterosklerotik
(unstable atherosclerosis plaque), dan jarang terjadi disebabkan
adanya thrombus superfisial karena rusaknya endotelium vaskuler.
Thrombus intrakoronari menyebabkan penyumbatan atau menyempitnya
lumen pembuluh darah.
Chlamydia
pneumoniae merupakan bakteri Gram-negatif, patogen, bersifat
obligat intraseluler. Infeksi C. pneumoniae umum terjadi,
sebagian besar manusia paling sedikit pernah satu kali terinfeksi
dalam hidupnya dan reinfeksi sering terjadi. Umumnya infeksi
C. pneumoniae bersifat subklinik atau merupakan penyakit respiratori
ringan yang bersifat self-limiting. Prevalen pada populasi
umum, menunjukkan 40-50% populasi dewasa terdeteksi antibodi
terhadap C. pneumoiae dan mempunyai korelasi positif dengan
terjadinya penyakit arteri koronari.
Chlamydia
pneumonaie dapat menyebabkan baik epidemik maupun endemik
infeksi traktus respiratorius di beberapa area di dunia. C.
pneumonaie menyebabkan penyakit respirasi bagian atas
dan bawah, seperti pneumonia, bronchitis, pharyngitis, sinusitis,
baik pada anak mapun dewasa. Infeksi C. pneumonaie
bersifat persisten dalam waktu lama. Gejala klinis infeksinya
tidak spesifik, batuk merupakan gejala yang paling sering
ditemukan dan bersifat khronis.
Pneumonia
dan bronchitis merupakan penyakit yang paling sering dihubungkan
dengan C. pneumoniae. Meskipun infeksi asimptomatik,
tetapi simptom ringan paling sering terjadi. Tidak ada gejala
unik dari infeksi pulmonari oleh C. pneumoniae. Batuk
merupakan petanda yang sangat sering, dan biasanya lama. Demam
sering tidak terlihat saat pemeriksaan, walaupun kemungkinan
pernah terjadi. Periode dari onset sampai manifestasi klinik
lebih lama dibanding infeksi akut respiratori lainnya. Selain
penyakit respiratori akut dan khronik, C. pneumoniae
dapat menyebabkan otitis media, chronic obstructive pulmonary
disease (COPD), severe systemic infection dan asthma. C.
pneumoniae dapat menyebabkan reaksi inflamasi, terjadinya
lesi vaskuler, dan menyebabkan penyakit arteri koronari.
Sejak
tahun 1988 infeksi oleh C. pneumoniae dihubungkan dengan
patogenesis aterosklerosis dan manifestasi klinisnya seperti
penyakit jantung koroner, stenosis arteri carotid, aneurisma
aortik, oklusi pada arteri di bawah akstremitas, dan stroke.
Studi seroepidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara
antibodi terhadap C. pneumoniae dengan penyakit arteri
koronari, infark miokardial, dan penyakit cerebrovaskuler.
Terjadi peningkatan titer antibodi terhadap C. pneumoniae
dua atau lebih tinggi dibanding individu normal. Organisme
C. pneumoniae ditemukan pada lesi aterosklerotik (atheroma).
Penelitian
yang pernah kami lakukan, tentang hubungan infeksi C. pneumonaie
dengan infark miokardial akut (IMA), memberikan hasil, bahwa
dari 27 pasien IMA (dari Rumah Sakit Saiful Anwar dan Lavalette,
Malang) 92,57% terinfeksi C. pneumonaie. Ditemukan
bahwa C. pneumonaie dapat sebagai independent risk
factor, dapat bersama salah satu faktor resiko lain (merokok,
hipertensi, hiperlipidemi, diabetes mellitus), dan sebagian
besar merupakan infeksi multipel dengan mikroorganisme lain
yang telah diduga menyebabkan aterosklerosis (Cytomegalovirus,
Streptococcus mutans, Helicobacter pylori, Porphiromonas gingivalis).
Dari
pustaka-pustaka di atas memberikan gambaran bagi kita semua,
bahwa penyakit-penyakit kardiovaskuler tidak hanya disebabkan
oleh hiperlipidemi, hipertensi, merokok, diabetes mellitus,
genetik, tetapi dapat juga disebabkan karena penyakit infeksi.
Penyakit-penyakit yang didasari oleh bakteri-bakteri periodontal
(penyebab terbentuknya karang gigi), penyakit saluran pernafasan
khronik dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler.
|