| Profil
Drh.
Hermanto Subaidi, M.Si
Berkemauan Keras

Drh. Hermanto Subaidi, M.Si.
Sebuah
perjalanan berjarak 88 km, yang membutuhkan waktu 2 jam perjalanan,
ditempuh koran ini untuk menemui seorang kepala Dinas Peternakan
Kabupaten Blitar yang sepengetahuan penulis, kabarnya adalah
kepala dinas peternakan termuda di Jawa Timur.
Ditemui siang hari dikantornya yang cukup rindang ditengah
teriknya kota ini, drh Hermanto, demikian biasa ia di panggil,
yang pada tanggal 23 Maret tahun ini genap berusia 43 tahun,
terlihat cukup surprise.
Sebelumnya, bapak yang lahir di Sampang, pulau garam ini,
adalah seorang dokter hewan KUD Semen Blitar yang menangani
komoditas sapi perah saja. Beliau menjabat kepala dinas peternakan
sejak tahun 2002 setelah sejak tahun 1988 diangkat sebagai
staf di program produksi.
Ketika ditanya bagaimana menjadi pimpinan dari 106 orang staf,
bapak yang berputra 2 orang dan seorang putri ini menjawab
dengan logat campuran khas Jawa Timurnya: ”Jadi pimpinan
itu berat tanggung jawabnya, soro harus duluan, penak iku
staf duluan”. Masih menurut beliau, peran dan keberadaan
dinas peternakan itu harus berfungsi dan berguna bagi masyarakat
umumnya dan peternak khususnya.
Karena itulah ketika kasus flu burung pecah pada akhir tahun
2003, berbagai cara konkrit dibuat untuk menanggulanginya.
Bersama-sama dengan tokoh-tokoh peternakan, swasta dan instansi-instansi
yang terkait, beliau melakukan vaksinasi, biosecurity dan
pengawasan lalu-lintas ternak. Sehingga kejadian depopulasi
yang sempat terjadi saat itu, telah mengalami pemulihan populasi
pada bulan Mei dan Juni tahun ini. Diperkirakan sekarang,
pengisian kandang sudah mencapai 100%. Terpilihnya kota Blitar
sebagai tuan rumah Rakornas Avian Influenza pada tahun 2004,
menunjukkan keseriusannya dalam menangani penyakit yang sangat
merugikan ini.
Seperti tidak ingin berhenti di satu titik saja, beliaupun
merasa punya tanggung jawab untuk turut memikirkan tunas-tunas
bangsa. Adalah peran dinas peternakan yang sangat penting
untuk mencapai kualitas gizi yang baik bagi murid-murid sekolah,
sehingga akan terciptalah generasi yang baik pula. Berharap
agar ada alokasi dana pemerintah yang cukup untuk dapat menunjang
pengadaan sumber protein hewani yang memadai.
Atas
inisiatif beliau, alumnus Unair yang lulus tahun 1986 ini,
dibangunlah tambahan sebuah sarana berupa laboratorium yang
dapat digunakan jasanya oleh masyarakat luas dan peternak
khususnya. Meskipun masih terbilang minim, tapi sudah dapat
untuk membaca titer anti body AI dan ND. Kandungan protein
dan serat kasar pakan ternak dapat pula dikerjakan disini
dengan menarik biaya yang sangat terjangkau, Rp. 50.000,-
per sample.
Di halaman gedung ini, juga terlihat papan dengan tulisan
“Klinik Hewan” yang dikelola oleh 12 tenaga dokter
hewan yang juga adalah staf dari dinas peternakan itu sendiri.
Meskipun demikian masih merupakan obsesi dari suami drh. Eny
Muharjuni untuk membangun poskeswan di tiap-tiap kecamatan
yang masing- masing mempunyai dokter hewan sebagai penanggung
jawabnya.
Ketika ditanya pandanganya tentang PDHI, beliau mengharapkan
ada sesuatu yang bermanfaat untuk anggotanya. Terutama advokasi
untuk setiap anggotanya yang mengalami masalah di “lapangan”.
Sehingga merangsang para dokter hewan untuk bergabung dalam
naungan PDHI. PDHI harus pula menunjukkan kiprahnya kepada
masyarakat luas. Membuat sebuah action dan solusi, ketika
terjadi outbreak penyakit di lapangan.
Saat mengakhiri wawancara ini, beliau masih sempat menyampaikan
sebuah impian yang masih tertunda, berwiraswasta. Diharapkan
dengan berwiraswasta akan diperoleh kemapanan ekonomi. Tetapi
karena waktunya yang sangat padat, impian itu baru akan diwujudkan
setelah masa pensiun sampai diujung tugasnya.
Demikianlah, dengan kehangatan khasnya, ayah dari Oscar, Bobby
dan Heny melepas koran PDHI sampai di depan gerbang kantornya
yang didominasi nuansa coklat. (Liz)
|