Edisi 006
Agustus 2005

Artikel Utama
Dokter Hewan Indonesia, masihkah bertaring...?

Profil
Drh. Bambang Soetedjo

Drh. Hermanto Subaidi

Wawancara dengan Ketua PDHI Jatim II

Serbet (seputar berita terkini)
Kebijakan pemerintah tentang KESMAVET


Laporan Munas Praktisi Hewan Kecil

Seputar Avian Influenza

Konsultasi
Papilomitosis pada sapi

Kolom PIDHI

Pelatihan anggrek

Klinik
Operasi caesar pada sapi

Seri Continuing Education
Enukleasi yang Benar & Caesar pada Anjing

Kegiatan PDHI Jatim II 2005
Pameran Flora dan Fauna

Dari anda
Berubah atau Mati

Profil

Drh. Hermanto Subaidi, M.Si
Berkemauan Keras


Drh. Hermanto Subaidi, M.Si.

Sebuah perjalanan berjarak 88 km, yang membutuhkan waktu 2 jam perjalanan, ditempuh koran ini untuk menemui seorang kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar yang sepengetahuan penulis, kabarnya adalah kepala dinas peternakan termuda di Jawa Timur.

Ditemui siang hari dikantornya yang cukup rindang ditengah teriknya kota ini, drh Hermanto, demikian biasa ia di panggil, yang pada tanggal 23 Maret tahun ini genap berusia 43 tahun, terlihat cukup surprise.

Sebelumnya, bapak yang lahir di Sampang, pulau garam ini, adalah seorang dokter hewan KUD Semen Blitar yang menangani komoditas sapi perah saja. Beliau menjabat kepala dinas peternakan sejak tahun 2002 setelah sejak tahun 1988 diangkat sebagai staf di program produksi.
Ketika ditanya bagaimana menjadi pimpinan dari 106 orang staf, bapak yang berputra 2 orang dan seorang putri ini menjawab dengan logat campuran khas Jawa Timurnya: ”Jadi pimpinan itu berat tanggung jawabnya, soro harus duluan, penak iku staf duluan”. Masih menurut beliau, peran dan keberadaan dinas peternakan itu harus berfungsi dan berguna bagi masyarakat umumnya dan peternak khususnya.

Karena itulah ketika kasus flu burung pecah pada akhir tahun 2003, berbagai cara konkrit dibuat untuk menanggulanginya. Bersama-sama dengan tokoh-tokoh peternakan, swasta dan instansi-instansi yang terkait, beliau melakukan vaksinasi, biosecurity dan pengawasan lalu-lintas ternak. Sehingga kejadian depopulasi yang sempat terjadi saat itu, telah mengalami pemulihan populasi pada bulan Mei dan Juni tahun ini. Diperkirakan sekarang, pengisian kandang sudah mencapai 100%. Terpilihnya kota Blitar sebagai tuan rumah Rakornas Avian Influenza pada tahun 2004, menunjukkan keseriusannya dalam menangani penyakit yang sangat merugikan ini.
Seperti tidak ingin berhenti di satu titik saja, beliaupun merasa punya tanggung jawab untuk turut memikirkan tunas-tunas bangsa. Adalah peran dinas peternakan yang sangat penting untuk mencapai kualitas gizi yang baik bagi murid-murid sekolah, sehingga akan terciptalah generasi yang baik pula. Berharap agar ada alokasi dana pemerintah yang cukup untuk dapat menunjang pengadaan sumber protein hewani yang memadai.

Atas inisiatif beliau, alumnus Unair yang lulus tahun 1986 ini, dibangunlah tambahan sebuah sarana berupa laboratorium yang dapat digunakan jasanya oleh masyarakat luas dan peternak khususnya. Meskipun masih terbilang minim, tapi sudah dapat untuk membaca titer anti body AI dan ND. Kandungan protein dan serat kasar pakan ternak dapat pula dikerjakan disini dengan menarik biaya yang sangat terjangkau, Rp. 50.000,- per sample.

Di halaman gedung ini, juga terlihat papan dengan tulisan “Klinik Hewan” yang dikelola oleh 12 tenaga dokter hewan yang juga adalah staf dari dinas peternakan itu sendiri. Meskipun demikian masih merupakan obsesi dari suami drh. Eny Muharjuni untuk membangun poskeswan di tiap-tiap kecamatan yang masing- masing mempunyai dokter hewan sebagai penanggung jawabnya.
Ketika ditanya pandanganya tentang PDHI, beliau mengharapkan ada sesuatu yang bermanfaat untuk anggotanya. Terutama advokasi untuk setiap anggotanya yang mengalami masalah di “lapangan”. Sehingga merangsang para dokter hewan untuk bergabung dalam naungan PDHI. PDHI harus pula menunjukkan kiprahnya kepada masyarakat luas. Membuat sebuah action dan solusi, ketika terjadi outbreak penyakit di lapangan.

Saat mengakhiri wawancara ini, beliau masih sempat menyampaikan sebuah impian yang masih tertunda, berwiraswasta. Diharapkan dengan berwiraswasta akan diperoleh kemapanan ekonomi. Tetapi karena waktunya yang sangat padat, impian itu baru akan diwujudkan setelah masa pensiun sampai diujung tugasnya.
Demikianlah, dengan kehangatan khasnya, ayah dari Oscar, Bobby dan Heny melepas koran PDHI sampai di depan gerbang kantornya yang didominasi nuansa coklat. (Liz)


 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by