| Profil
Let.
Kol. Purn. Drh. Bambang Soetedjo
Bersih dan Jujur
Keluarga Besar drh. Bambang Soetedjo
(dari kiri ke kanan)
Ajeng Wismiyar Ratnasari, SE; Drh. Bambang Soetedjo; Mayasari,
SH; Tjutjup Supriati; Lia Vitaliasari.
Kehidupan
adalah perjalanan manusia yang tidak pernah dapat digambarkan
gamblang oleh pelakunya. Arah dan rancangan pasti dibuat ketika
manusia mulai mengerti tentang kehidupan itu sendiri. Tetapi
hanya sang Khaliklah yang menentukan kemana langkah hidup
itu harus ditetapkan. Itulah yang menjadikan perjalanan hidup
seorang purnawirawan TNI AD sedikit berbeda dari kebanyakan
dokter hewan umumnya.
Ditemui di kediamannya yang tertata rapi dan dipenuhi tanaman
suflier, Letnan Kolonel Purn. Drh. Bambang Soetedjo, menerima
koran PDHI dengan ramah. Meskipun baru saja sembuh dari deraan
hypertrophy prostat, beliau masih sangat terlihat tegap dan
bugar. Penampilannya yang necis, mengesankan gaya hidupnya
yang disiplin, pola yang sudah mengakar kuat pada diri seorang
prajurit.
Lahir di kota tahu, Kediri, pada tanggal 10 Oktober 67 tahun
yang lalu, beliau menyelesaikan gelar dokter hewannya dari
IPB tahun 1965. Segera setelah lulus, beliau bekerja sebagai
tenaga sipil di Angkatan Udara di Lampung untuk mengurus 10
ekor sapi tanpa honor sepersenpun. Tidak bertahan lama di
pekerjaan itu, beliau mengikuti wajib militer di Angkatan
Darat dan ditempatkan di kesatuan Kesdam X Lambung Mangkurat
Kalimantan Selatan dengan pangkat letnan satu pada tahun 1969.
Sewaktu masih aktif di Angkatan Darat (AD) tiga tanggung jawab
utama yang dipercayakan pada bapak yang suka lemper masakan
ibunya ini, yakni sebagai pembina transmigrasi lokal dan para
tahanan PKI, beliau juga berkecimpung di bidang biro veteriner
yang didalamnya termasuk menangani bidang food security ketika
presiden dan keluarganya berkunjung, atau yang di kalangan
militer lebih populer disebut ring 1.
Jabatan Pembantu Dekan III Universitas Achmad Yani yang sekarang
merger dengan Universitas Lambung Mangkurat diembannya hingga
kepindahannya ke Jakarta pada tahun 1975 dengan pangkat kapten.
Setahun di Jakarta, 1976 beliau ditugaskan di Malang, di Kesdam
V Brawijaya dan berturut-turut langkah karir kedinasannya
menanjak. Tahun 1980, beliau menjabat sebagai Kasi Uji Badan.
Jabatan Danden, komandan datasemen direngkuhnya tahun 1988
selama 2 tahun sebelum pada tahun 1990 menduduki kursi Wakil
kepala Kesdam V Brawijaya.
Suami dari seorang ibu cantik yang bernama Tjutjup Supriati
ini, mempunyai prinsip hidup ingin selalu berbuat baik terhadap
sesamanya. Dalam kesatuannya, beliau sangat menerapkan ketertiban
dan selalu memperhatikan anggotanya. Masa pensiun menjemputnya
pada tahun 1997 sebagai Waka kesdam V Brawijaya, tetapi tidak
berarti bahwa karirnya terhenti. Beliau ditugasi panglima
untuk mewakili legislative AD di komisi A sebagai anggota
DPRD Probolinggo sampai beberapa tahun kemudian.
Tidak ingin ilmu kedokteranhewannya kabur, praktek dokter
hewan tetap dilakukan dirumahnya meskipun tidak penuh. Memelihara
dan berternak ayam Bangkok juga ditekuni beliau sejak tahun
1999 hingga 2005.
Sekarang ketika usianya sudah merambat naik dan kondisi kesehatannya
masih dalam masa pemulihan, beliau tidak pernah meninggalkan
kebiasaan masa mudanya untuk berpuasa senin kamis. Karena
beliau yakin, kedekatan padaNya akan membuahkan sebuah pribadi
yang tangguh, bersih dan jujur.
Keharuan dan kehangatan yang tulus mengalir indah dari sanubari
seorang bapak berputra 3, Lia, Ajeng dan Mayasari ketika koran
PDHI mengakhiri perbincangan ini. (Liz)
|