| Artikel

Dokter
Hewan Indonesia, Masihkah Bertaring?
Oleh: Heru S. Prabowo, drh
Saya
agak tersentil oleh artikel yang ditulis oleh kolega drh Deddy
F. Kurniawan pada media ini April 2005 yang mempertanyakan
kualitas dokter hewan Indonesia dan kemampuannya untuk bersaing
dengan dokter hewan lulusan atau berasal dari luar negeri.
Memang
satu pertanyaan yang sudah seharusnya kita tujukan kepada
diri kita sendiri. Apakah kita berkompeten dibidang kita masing-masing,
apakah kita cukup profesional dibidang yang kita geluti sekarang?
Atau apakah kita cukup bisa diandalkan dibidang yang kita
tekuni sekarang ini? Waktunya introspeksi dan berkaca melihat
diri sendiri. Saya kebetulan bekerja diperusahaan industri
sapi perah yang banyak berhubungan dengan para ahli (khususnya
dokter hewan) yang berasal dari luar negeri. Saya juga pernah
bekerja dengan mereka di tempat asal mereka dan sedikit banyak
mengetahui bagaimana mereka bekerja sebagai seorang dokter
hewan. Mereka, baik yang ahli dibidang kesehatan hewan, reproduksi,
nutrisi atau manajemen secara umum memang ahli dibidang yang
menjadi keahlian mereka masing-masing. Secara umum sebenarnya
tidak ada hal yang sangat baru dari apa yang mereka sampaikan,
mereka “hanya” sangat paham terhadap apa yang
mereka lakukan dan mereka punya pengalaman melakukan apa yang
mereka katakan. Selebihnya kita sebenarnya bisa menjadi seperti
itu.
Ada
beberapa hal yang mempengaruhi daya saing dokter hewan Indonesia
dibandingkan dengan dokter hewan dari luar negeri.
Inferior
mind
Ini merupakan sindrom mental yang hampir dialami oleh semua
orang Indonesia atau bahkan Asia umumnya yaitu merasa menjadi
orang yang berkualitas nomor dua. Bila berhadapan dengan orang
yang bermata biru, berkulit putih, berambut blonde langsung
merasa bahwa mereka lebih hebat, lebih jago dan lebih ahli.
Padahal kenyataan sebenarnya tidak selalu seperti itu. Mental
kalah sebelum berperang. Hal ini otomatis akan mempengaruhi
seluruh pola tindak dan pola pikir justru malah akan menguatkan
citra bahwa kita memang nomor dua.
Bahasa
Dunia yang makin tanpa batas, komunikasi yang bisa berlangsung
dalam hitungan detik meskipun berbeda belahan dunia, kemajuan
teknologi informasi yang sedemikian cepatnya, semuanya menuntut
dokter hewan mampu berkomunikasi dengan kolega mereka dari
belahan manapun dunia ini guna mengakses informasi dan membuat
jaringan. Bila kemampuan berbahasa internasional minim atau
tidak ada, bagaimana bisa berkompetisi dengan yang mampu melakukannya?
Hampir semua textbook dan media informasi dunia kedokteran
hewan ditulis dalam bahasa Inggris. Kuasai bahasa!
Jaringan
Satu hal yang positif yang bisa diambil oleh dokter hewan
Indonesia adalah kekuatan jaringan antar dokter hewan. Masing-masing
dokter hewan mempunyai keunggulan dibidang masing-masing.
Bila bekerja dibidang sapi perah, ada dokter hewan tertentu
yang ahli di bidang pengendalian mastitis, ada yang ahli dibidang
pengendalian pincang, atau reproduksi atau apapun. Kita harus
mengakui hal itu dan tidak harus merasa malu untuk bertanya
kepada ahlinya bila kita tidak menguasai satu masalah tertentu.
Tidak ada satu orang dokter hewan yang menguasai segalanya.
Kekuatan menerima kelebihan teman sejawat itu yang perlu ditumbuhkembangkan
dikalangan dokter hewan Indonesia. Jaringan informasi, kemudahan
akses komunikasi dan kerelaan berbagi ilmu dengan kolega,
membuang rasa egois dan malu bertanya adalah hal positif yang
perlu dikembangkan.
Never
stop learning!
Jangan berhenti belajar! Ilmu selalu dan terus berkembang.
Jangan hanya mengandalkan diktat dan fotokopian bahan kuliah
kita dulu untuk mencari tahu apa yang kita temui sekarang
dilapangan. Bisa jadi apa yang diajarkan bapak ibu guru kita
saat kuliah dulu juga merupakan ilmu dasar yang dirilis tahun
tujuh puluhan sedangkan ada penemuan terbaru tentang prinsip
dasar tersebut sehingga yang lama sudah “tidak laku”
lagi. Cari ilmu baru dari sumber-sumber terpercaya dan terbaru.
Dengan begitu kita akan terus ter”update” dan
tidak ketinggalan ilmu. Biaya yang dikeluarkan untuk mencari
ilmu bukanlah biaya, melainkan investasi. Investasi bisa kembali
bahkan dengan nilai yang lebih tinggi.
|