Edisi 006
Agustus 2005

Artikel Utama
Dokter Hewan Indonesia, masihkah bertaring...?

Profil
Drh. Bambang Soetedjo

Drh. Hermanto Subaidi

Wawancara dengan Ketua PDHI Jatim II

Serbet (seputar berita terkini)
Kebijakan pemerintah tentang KESMAVET


Laporan Munas Praktisi Hewan Kecil

Seputar Avian Influenza

Konsultasi
Papilomitosis pada sapi

Kolom PIDHI

Pelatihan anggrek

Klinik
Operasi caesar pada sapi

Seri Continuing Education
Enukleasi yang Benar & Caesar pada Anjing

Kegiatan PDHI Jatim II 2005
Pameran Flora dan Fauna

Dari anda
Berubah atau Mati

Artikel

Dokter Hewan Indonesia, Masihkah Bertaring?
Oleh: Heru S. Prabowo, drh

Saya agak tersentil oleh artikel yang ditulis oleh kolega drh Deddy F. Kurniawan pada media ini April 2005 yang mempertanyakan kualitas dokter hewan Indonesia dan kemampuannya untuk bersaing dengan dokter hewan lulusan atau berasal dari luar negeri.

Memang satu pertanyaan yang sudah seharusnya kita tujukan kepada diri kita sendiri. Apakah kita berkompeten dibidang kita masing-masing, apakah kita cukup profesional dibidang yang kita geluti sekarang? Atau apakah kita cukup bisa diandalkan dibidang yang kita tekuni sekarang ini? Waktunya introspeksi dan berkaca melihat diri sendiri. Saya kebetulan bekerja diperusahaan industri sapi perah yang banyak berhubungan dengan para ahli (khususnya dokter hewan) yang berasal dari luar negeri. Saya juga pernah bekerja dengan mereka di tempat asal mereka dan sedikit banyak mengetahui bagaimana mereka bekerja sebagai seorang dokter hewan. Mereka, baik yang ahli dibidang kesehatan hewan, reproduksi, nutrisi atau manajemen secara umum memang ahli dibidang yang menjadi keahlian mereka masing-masing. Secara umum sebenarnya tidak ada hal yang sangat baru dari apa yang mereka sampaikan, mereka “hanya” sangat paham terhadap apa yang mereka lakukan dan mereka punya pengalaman melakukan apa yang mereka katakan. Selebihnya kita sebenarnya bisa menjadi seperti itu.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi daya saing dokter hewan Indonesia dibandingkan dengan dokter hewan dari luar negeri.

Inferior mind
Ini merupakan sindrom mental yang hampir dialami oleh semua orang Indonesia atau bahkan Asia umumnya yaitu merasa menjadi orang yang berkualitas nomor dua. Bila berhadapan dengan orang yang bermata biru, berkulit putih, berambut blonde langsung merasa bahwa mereka lebih hebat, lebih jago dan lebih ahli. Padahal kenyataan sebenarnya tidak selalu seperti itu. Mental kalah sebelum berperang. Hal ini otomatis akan mempengaruhi seluruh pola tindak dan pola pikir justru malah akan menguatkan citra bahwa kita memang nomor dua.

Bahasa
Dunia yang makin tanpa batas, komunikasi yang bisa berlangsung dalam hitungan detik meskipun berbeda belahan dunia, kemajuan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya, semuanya menuntut dokter hewan mampu berkomunikasi dengan kolega mereka dari belahan manapun dunia ini guna mengakses informasi dan membuat jaringan. Bila kemampuan berbahasa internasional minim atau tidak ada, bagaimana bisa berkompetisi dengan yang mampu melakukannya? Hampir semua textbook dan media informasi dunia kedokteran hewan ditulis dalam bahasa Inggris. Kuasai bahasa!

Jaringan
Satu hal yang positif yang bisa diambil oleh dokter hewan Indonesia adalah kekuatan jaringan antar dokter hewan. Masing-masing dokter hewan mempunyai keunggulan dibidang masing-masing. Bila bekerja dibidang sapi perah, ada dokter hewan tertentu yang ahli di bidang pengendalian mastitis, ada yang ahli dibidang pengendalian pincang, atau reproduksi atau apapun. Kita harus mengakui hal itu dan tidak harus merasa malu untuk bertanya kepada ahlinya bila kita tidak menguasai satu masalah tertentu. Tidak ada satu orang dokter hewan yang menguasai segalanya. Kekuatan menerima kelebihan teman sejawat itu yang perlu ditumbuhkembangkan dikalangan dokter hewan Indonesia. Jaringan informasi, kemudahan akses komunikasi dan kerelaan berbagi ilmu dengan kolega, membuang rasa egois dan malu bertanya adalah hal positif yang perlu dikembangkan.

Never stop learning!
Jangan berhenti belajar! Ilmu selalu dan terus berkembang. Jangan hanya mengandalkan diktat dan fotokopian bahan kuliah kita dulu untuk mencari tahu apa yang kita temui sekarang dilapangan. Bisa jadi apa yang diajarkan bapak ibu guru kita saat kuliah dulu juga merupakan ilmu dasar yang dirilis tahun tujuh puluhan sedangkan ada penemuan terbaru tentang prinsip dasar tersebut sehingga yang lama sudah “tidak laku” lagi. Cari ilmu baru dari sumber-sumber terpercaya dan terbaru. Dengan begitu kita akan terus ter”update” dan tidak ketinggalan ilmu. Biaya yang dikeluarkan untuk mencari ilmu bukanlah biaya, melainkan investasi. Investasi bisa kembali bahkan dengan nilai yang lebih tinggi.


 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by