| Klinik
Operasi Caesar pada
Sapi Perah
Sebuah Kisah
Oleh:
Drh. Heru S. Prabowo

Gunung
Kawi, 31 Mei 2005. Salah seorang staf saya melaporkan adanya
kesulitan kelahiran pada sapi nomor 6414. Laktasi 2, sapi
cross, BCS (Body Condition Score ) 4.5 pada skala 1-5, cukup
gemuk .
Sapi merejan beberapa lama tetapi proses kelahiran tidak ada
kemajuan. Saya melakukan pemeriksaan, palpasi per vaginal.
Vulva dilatasi maksimal, pedet masih hidup. Posisi pedetnya
“mlumah” (dorso ventral), posisi kepala keluar
duluan (anterior). Masalahnya ada pada uterus yang meluntir
sekitar 30 derajat ke kanan tubuh induk (torsio uteri) dan
ukuran pedet yang relatif besar. Lebih besar dari lubang keluar
induk (pelvic inlet). Saya coba melakukan reposisi dan beberapa
prosedur standar distokia. Posisi pedet sudah bisa kembali
ke posisi normal. Torsio uteri juga sudah kembali. Masalahnya
ada pada ukuran pedet yang besar. Kalau dipaksakan keluar
lewat proses normal (per vaginal) diprediksikan akan terjadi
gangguan pada induk pasca lahir (perobekan vagina, paraplegia
bahkan mungkin juga bisa menyebabkan paralysis). Belum lagi
kemungkinan pedet mati. Dihadapkan pada kondisi seperti itu,
menurut saya, operasi Caesar adalah pilihannya.
Persiapan operasi dilakukan.
Rambut sapi pada daerah legok lapar (flank) kiri dicukur.
Lebarnya sekitar 5 cm dengan panjang 30-40 cm. Saya lebih
suka melakukan operasi Caesar dari flank kiri karena gangguan
organ viscera saat mengeksteriorasi uterus bisa minimal karena
hanya berbatasan dengan rumen. Flank kanan akan banyak omentum
yang ikut keluar, belum lagi bila intestine juga tereksteriorasi
keluar. Lebih sulit.

Premedikasi
10 ml Clenbuterol (Planipart ®) diberikan intra vena sebagai
uterine relaxant. 4 ml Lidokain diberikan secara epidural
antara vertebrae sacral terakhir dengan vertebrae coccigeae
1. Sapi masih dalam posisi berdiri, kepala dijepit dalam head
lock di ruang operasi.
Saya
hanya membutuhkan, mata skalpel, gunting, jarum setengah lingkaran
dengan diameter lingkaran 3-4 cm, pemegang jarum (needle holder),
arteri klem, dan kadang-kadang pinset. Jangan lupa juga cat
gut USP 3 (besar) dan monofilament non absorbable silk, 2
botol LR dan Penstrep. Glove steril, pakaian operasi dan desinfektan
atau sabun untuk membersihkan tangan, kuku dan lengan kita
sebelum melakukan operasi.
Setelah premedikasi selesai, persiapan flank untuk insisi
selesai dan dibersihkan maka anastesi lokal di daerah insisi
dilakukan. Ada beberapa cara melakukan anastesi pada daerah
flank ini. Ada yang diberikan infiltrasi disepanjang daerah
yang akan diinsisi, bisa juga dengan anasteri regional. Anastesi
regional dilakukan untuk memblok syaraf yang menginervasi
daerah flank dan sekitarnya (cabang ventral dari syaraf T13,
L1 dan L2). Bisa dilakukan dengan inverted L, proximal paravertebral
atau bisa juga distal paravertebral. Cara yang paling gampang
adalah dengan anastesi infiltrasi disepanjang daerah yang
akan diinsisi. Namun cara ini boros Lidokain. Untuk satu operasi
Caesar bisa membutuhkan 150-200 ml Lidokain. Untungnya harganya
tidak mahal. Anastesi regional membutuhkan relatif sedikit
Lidokain, hanya anda harus mengenali struktur dan benar-benar
memahami anatomi dari tulang belakang khususnya daerah thorac
dan lumbal dan persyarafannya.
Saya
kemudian melakukan anastesi lokal infiltrasi. Tunggu sekitar
10-15 menit . Anastesi ini sebenarnya juga bisa dilakukan
sebelum rambut dicukur untuk menghemat waktu. Setelah yakin
teranastesi sempurna, insisi dilakukan. Kulit kemudian jaringan
lemak kemudian m. transversus eksternus, internus, obliquus
abdominis dan peritoneum. Saya membuat lubang insisi sekalian
lebar, sekitar 30 cm karena mempertimbangkan ukuran pedet
yang akan keluar melewati lubang insisi tersebut. Begitu flank
kiri sudah terbuka, terlihat rumen yang menutupi hampir semua
lubang insisi.
Identifikasi
uterus.
Hal ini relatif mudah karena ukurannya yang besar. Palpasi
dinding uterus, bila masih ada perputaran (torsio) kembalikan
sampai posisi normal. Palpasi uterus dan temukan ujung kuku
pedet. Pada posisi anterior, maka kuku kaki belakang yang
harus terpegang. Posisikan ujung kuku pedet tadi mendekat
ke lubang insisi yang telah dibuat.
Begitu ujung kuku pedet yang sudah terpegang bisa diposisikan
di mulut lubang insisi, siapkan skalpel untuk memulai insisi
dinding uterus. Cari lokasi insisi yang berdekatan dengan
ujung kornua uteri. Jangan melakukan insisi pada daerah yang
berdekatan dengan cervic. Penjahitan akan sulit dilakukan.
Hindari teririsnya kotiledon saat mengiris dinding uterus
karena itu akan menyebabkan perdarahan pasca operasi. Buat
insisi selebar kira-kira pinggul pedet bisa melewatinya. Dinding
uterus sudah terbuka, akan terlihat kaki pedet yang masih
terbungkus selaput amnion. Robeklah selaput amnion tadi sehingga
cairannya keluar dan kaki bisa terpegang. Cari satu kaki lainnya.
Dua kaki sudah terpegang, dengan bantuan 2 orang asisten,
pedet ditarik dan keluar. Saat menarik pedet yang masih hidup
dengan posisi anterior, proses pengeluaran pedet harus berlangsung
cepat. Jika tidak, pedet akan mengalami pneumonia aspirasi,
bahkan bisa mati. Hal ini bisa terjadi karena bila kaki belakang
pedet ditarik keluar lebih dahulu, maka saluran pusar akan
terputus, padahal kepala pedet masih ada di dalam selaput
amnion yang berisi cairan. Bila prosesnya lama, pedet akan
bernafas di dalam cairan amnion.

Pedet
bisa ditarik keluar, masih hidup, betina dan sehat. Cukup
besar. Pedet diurus oleh asisten sedangkan saya melanjutkan
mengurus uterus yang berlubang 30 cm itu. Karena efek Clenbuterol,
uterus akan tetap relaksasi setelah pedet keluar. Bila tanpa
Clenbuterol, uterus akan mengkerut dengan cepat sekali, sehingga
penjahitan dinding uterus akan sulit dilakukan. Biarkan plasenta
didalam, masukkan yang menggantung diluar dan jangan berusaha
menarik plasenta sesaat setelah operasi. Siapkan 2 meter cat
gut, jarum dan needle holder.
Mulai
melakukan penjahitan dinding uterus dengan model jahitan Lambert
sampai dinding uterus tertutup, benar-benar rapat. Proses
penjahitan sebisa mungkin dilakukan diluar rongga perut dengan
cara dinding uterus ditarik keluar. Saya biasanya hanya melakukan
satu kali penjahitan pada dinding uterus. Namun bila kurang
yakin akan kekuatannya, atau khawatir akan terjadi kebocoran,
lakukan dua kali.
Selesai
melakukan penjahitan, bersihkan rongga abdomen dari darah
yang membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga
uterus. Bersihkan dengan larutan LR yang dicampur dengan Penstrep.
Pembersihan ini penting untuk menghindari terjadinya adhesi
antar organ viscera pasca operasi. Saya biasanya tidak memasukkan
antibiotik ke dalam uterus. Antibiotik diberikan lewat injeksi
intra muskular.
Bila
rongga perut sudah bersih, mulai melakukan penjahitan lapisan
otot dan kulit. Saya biasanya melakukan dua kali penjahitan
(dua lapis). Satu lapis pertama adalah jahitan gabungan antara
peritoneum, m. obliquus abdominis dan m. transversus internus.
Lapis kedua baru m. transversus externus. Lapis terakhir kulit
dengan silk. Pastikan saat melakukan penjahitan, lapis demi
lapis otot bergabung, menyatu satu sama lain untuk menghindari
adanya dead space yang bisa menyebabkan infeksi pasca operasi.
Injeksikan
oksitosin 5 ml begitu operasi selesai. Oksitosin merupakan
antidote dari Clenbuterol. Oksitosin akan membuat uterus berkontraksi
dan proses involusi segera dimulai, plasenta akan terbantu
keluar dengan kontraksi uterus.
Jahitan
kulit pada lapisan terluar bisa dilepas setelah 3 minggu operasi.
Perawatan
pasca operasi yang biasa saya lakukan adalah antibiotik selama
5 hari intra muscular (Penstrep), anti inflamasi 3 hari pertama
(Flunixin Meglumin). Oksitosin diberikan setiap 3 jam sekali
atau sampai 12 jam pasca operasi sampai plasenta keluar. Masa
kritis selama 24 jam pertama.
Suhu
tubuh harus selalu dipantau. Bila terjadi infeksi, kenaikan
suhu tubuh biasanya terjadi antara hari ke 3-5 pasca operasi.
Masa kritis 24 jam pertama, bila terlewati akan terlihat bahwa
sapi sehat, mau makan, produksi susu terus meningkat dan plasenta
keluar 12 jam pertama pasca operasi. Bila lewat 7 hari pasca
operasi sapi terlihat sehat, produksi susu meningkat, tidak
terjadi kenaikan suhu tubuh (>39.5 C), nafsu makan baik,
bisa dianggap operasi berhasil.
Dari sekian sapi yang dioperasi Caesar, 80-90 % diantaranya
survive dan bisa melanjutkan masa laktasinya. Namun secara
reproduksi, masa tunggu pasca melahirkan (VWP = voluntary
waiting period) relatif lebih panjang dari sapi yang melahirkan
normal, proses involusinya juga lebih lama dan kemungkinan
menjadi bunting juga relatif lebih kecil.
herusp@greenfields.austasia.biz
*) Drh. Heru S. Prabowo bekerja pada PT.
Greenfields Indonesia Dairy Farm.
|