Edisi 006
Agustus 2005

Artikel Utama
Dokter Hewan Indonesia, masihkah bertaring...?

Profil
Drh. Bambang Soetedjo

Drh. Hermanto Subaidi

Wawancara dengan Ketua PDHI Jatim II

Serbet (seputar berita terkini)
Kebijakan pemerintah tentang KESMAVET


Laporan Munas Praktisi Hewan Kecil

Seputar Avian Influenza

Konsultasi
Papilomitosis pada sapi

Kolom PIDHI

Pelatihan anggrek

Klinik
Operasi caesar pada sapi

Seri Continuing Education
Enukleasi yang Benar & Caesar pada Anjing

Kegiatan PDHI Jatim II 2005
Pameran Flora dan Fauna

Dari anda
Berubah atau Mati

Klinik

Operasi Caesar pada Sapi Perah
Sebuah Kisah
Oleh: Drh. Heru S. Prabowo

Gunung Kawi, 31 Mei 2005. Salah seorang staf saya melaporkan adanya kesulitan kelahiran pada sapi nomor 6414. Laktasi 2, sapi cross, BCS (Body Condition Score ) 4.5 pada skala 1-5, cukup gemuk .

Sapi merejan beberapa lama tetapi proses kelahiran tidak ada kemajuan. Saya melakukan pemeriksaan, palpasi per vaginal. Vulva dilatasi maksimal, pedet masih hidup. Posisi pedetnya “mlumah” (dorso ventral), posisi kepala keluar duluan (anterior). Masalahnya ada pada uterus yang meluntir sekitar 30 derajat ke kanan tubuh induk (torsio uteri) dan ukuran pedet yang relatif besar. Lebih besar dari lubang keluar induk (pelvic inlet). Saya coba melakukan reposisi dan beberapa prosedur standar distokia. Posisi pedet sudah bisa kembali ke posisi normal. Torsio uteri juga sudah kembali. Masalahnya ada pada ukuran pedet yang besar. Kalau dipaksakan keluar lewat proses normal (per vaginal) diprediksikan akan terjadi gangguan pada induk pasca lahir (perobekan vagina, paraplegia bahkan mungkin juga bisa menyebabkan paralysis). Belum lagi kemungkinan pedet mati. Dihadapkan pada kondisi seperti itu, menurut saya, operasi Caesar adalah pilihannya.
Persiapan operasi dilakukan.
Rambut sapi pada daerah legok lapar (flank) kiri dicukur. Lebarnya sekitar 5 cm dengan panjang 30-40 cm. Saya lebih suka melakukan operasi Caesar dari flank kiri karena gangguan organ viscera saat mengeksteriorasi uterus bisa minimal karena hanya berbatasan dengan rumen. Flank kanan akan banyak omentum yang ikut keluar, belum lagi bila intestine juga tereksteriorasi keluar. Lebih sulit.

Premedikasi
10 ml Clenbuterol (Planipart ®) diberikan intra vena sebagai uterine relaxant. 4 ml Lidokain diberikan secara epidural antara vertebrae sacral terakhir dengan vertebrae coccigeae 1. Sapi masih dalam posisi berdiri, kepala dijepit dalam head lock di ruang operasi.

Saya hanya membutuhkan, mata skalpel, gunting, jarum setengah lingkaran dengan diameter lingkaran 3-4 cm, pemegang jarum (needle holder), arteri klem, dan kadang-kadang pinset. Jangan lupa juga cat gut USP 3 (besar) dan monofilament non absorbable silk, 2 botol LR dan Penstrep. Glove steril, pakaian operasi dan desinfektan atau sabun untuk membersihkan tangan, kuku dan lengan kita sebelum melakukan operasi.
Setelah premedikasi selesai, persiapan flank untuk insisi selesai dan dibersihkan maka anastesi lokal di daerah insisi dilakukan. Ada beberapa cara melakukan anastesi pada daerah flank ini. Ada yang diberikan infiltrasi disepanjang daerah yang akan diinsisi, bisa juga dengan anasteri regional. Anastesi regional dilakukan untuk memblok syaraf yang menginervasi daerah flank dan sekitarnya (cabang ventral dari syaraf T13, L1 dan L2). Bisa dilakukan dengan inverted L, proximal paravertebral atau bisa juga distal paravertebral. Cara yang paling gampang adalah dengan anastesi infiltrasi disepanjang daerah yang akan diinsisi. Namun cara ini boros Lidokain. Untuk satu operasi Caesar bisa membutuhkan 150-200 ml Lidokain. Untungnya harganya tidak mahal. Anastesi regional membutuhkan relatif sedikit Lidokain, hanya anda harus mengenali struktur dan benar-benar memahami anatomi dari tulang belakang khususnya daerah thorac dan lumbal dan persyarafannya.

Saya kemudian melakukan anastesi lokal infiltrasi. Tunggu sekitar 10-15 menit . Anastesi ini sebenarnya juga bisa dilakukan sebelum rambut dicukur untuk menghemat waktu. Setelah yakin teranastesi sempurna, insisi dilakukan. Kulit kemudian jaringan lemak kemudian m. transversus eksternus, internus, obliquus abdominis dan peritoneum. Saya membuat lubang insisi sekalian lebar, sekitar 30 cm karena mempertimbangkan ukuran pedet yang akan keluar melewati lubang insisi tersebut. Begitu flank kiri sudah terbuka, terlihat rumen yang menutupi hampir semua lubang insisi.

Identifikasi uterus.
Hal ini relatif mudah karena ukurannya yang besar. Palpasi dinding uterus, bila masih ada perputaran (torsio) kembalikan sampai posisi normal. Palpasi uterus dan temukan ujung kuku pedet. Pada posisi anterior, maka kuku kaki belakang yang harus terpegang. Posisikan ujung kuku pedet tadi mendekat ke lubang insisi yang telah dibuat.
Begitu ujung kuku pedet yang sudah terpegang bisa diposisikan di mulut lubang insisi, siapkan skalpel untuk memulai insisi dinding uterus. Cari lokasi insisi yang berdekatan dengan ujung kornua uteri. Jangan melakukan insisi pada daerah yang berdekatan dengan cervic. Penjahitan akan sulit dilakukan. Hindari teririsnya kotiledon saat mengiris dinding uterus karena itu akan menyebabkan perdarahan pasca operasi. Buat insisi selebar kira-kira pinggul pedet bisa melewatinya. Dinding uterus sudah terbuka, akan terlihat kaki pedet yang masih terbungkus selaput amnion. Robeklah selaput amnion tadi sehingga cairannya keluar dan kaki bisa terpegang. Cari satu kaki lainnya. Dua kaki sudah terpegang, dengan bantuan 2 orang asisten, pedet ditarik dan keluar. Saat menarik pedet yang masih hidup dengan posisi anterior, proses pengeluaran pedet harus berlangsung cepat. Jika tidak, pedet akan mengalami pneumonia aspirasi, bahkan bisa mati. Hal ini bisa terjadi karena bila kaki belakang pedet ditarik keluar lebih dahulu, maka saluran pusar akan terputus, padahal kepala pedet masih ada di dalam selaput amnion yang berisi cairan. Bila prosesnya lama, pedet akan bernafas di dalam cairan amnion.

Pedet bisa ditarik keluar, masih hidup, betina dan sehat. Cukup besar. Pedet diurus oleh asisten sedangkan saya melanjutkan mengurus uterus yang berlubang 30 cm itu. Karena efek Clenbuterol, uterus akan tetap relaksasi setelah pedet keluar. Bila tanpa Clenbuterol, uterus akan mengkerut dengan cepat sekali, sehingga penjahitan dinding uterus akan sulit dilakukan. Biarkan plasenta didalam, masukkan yang menggantung diluar dan jangan berusaha menarik plasenta sesaat setelah operasi. Siapkan 2 meter cat gut, jarum dan needle holder.

Mulai melakukan penjahitan dinding uterus dengan model jahitan Lambert sampai dinding uterus tertutup, benar-benar rapat. Proses penjahitan sebisa mungkin dilakukan diluar rongga perut dengan cara dinding uterus ditarik keluar. Saya biasanya hanya melakukan satu kali penjahitan pada dinding uterus. Namun bila kurang yakin akan kekuatannya, atau khawatir akan terjadi kebocoran, lakukan dua kali.

Selesai melakukan penjahitan, bersihkan rongga abdomen dari darah yang membeku dan runtuhan jaringan yang berasal dari rongga uterus. Bersihkan dengan larutan LR yang dicampur dengan Penstrep. Pembersihan ini penting untuk menghindari terjadinya adhesi antar organ viscera pasca operasi. Saya biasanya tidak memasukkan antibiotik ke dalam uterus. Antibiotik diberikan lewat injeksi intra muskular.

Bila rongga perut sudah bersih, mulai melakukan penjahitan lapisan otot dan kulit. Saya biasanya melakukan dua kali penjahitan (dua lapis). Satu lapis pertama adalah jahitan gabungan antara peritoneum, m. obliquus abdominis dan m. transversus internus. Lapis kedua baru m. transversus externus. Lapis terakhir kulit dengan silk. Pastikan saat melakukan penjahitan, lapis demi lapis otot bergabung, menyatu satu sama lain untuk menghindari adanya dead space yang bisa menyebabkan infeksi pasca operasi.

Injeksikan oksitosin 5 ml begitu operasi selesai. Oksitosin merupakan antidote dari Clenbuterol. Oksitosin akan membuat uterus berkontraksi dan proses involusi segera dimulai, plasenta akan terbantu keluar dengan kontraksi uterus.

Jahitan kulit pada lapisan terluar bisa dilepas setelah 3 minggu operasi.

Perawatan pasca operasi yang biasa saya lakukan adalah antibiotik selama 5 hari intra muscular (Penstrep), anti inflamasi 3 hari pertama (Flunixin Meglumin). Oksitosin diberikan setiap 3 jam sekali atau sampai 12 jam pasca operasi sampai plasenta keluar. Masa kritis selama 24 jam pertama.

Suhu tubuh harus selalu dipantau. Bila terjadi infeksi, kenaikan suhu tubuh biasanya terjadi antara hari ke 3-5 pasca operasi. Masa kritis 24 jam pertama, bila terlewati akan terlihat bahwa sapi sehat, mau makan, produksi susu terus meningkat dan plasenta keluar 12 jam pertama pasca operasi. Bila lewat 7 hari pasca operasi sapi terlihat sehat, produksi susu meningkat, tidak terjadi kenaikan suhu tubuh (>39.5 C), nafsu makan baik, bisa dianggap operasi berhasil.
Dari sekian sapi yang dioperasi Caesar, 80-90 % diantaranya survive dan bisa melanjutkan masa laktasinya. Namun secara reproduksi, masa tunggu pasca melahirkan (VWP = voluntary waiting period) relatif lebih panjang dari sapi yang melahirkan normal, proses involusinya juga lebih lama dan kemungkinan menjadi bunting juga relatif lebih kecil.

herusp@greenfields.austasia.biz
*) Drh. Heru S. Prabowo bekerja pada PT. Greenfields Indonesia Dairy Farm.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by