|
Profil
Drh.
Herliantien, M.P.
Energik, Idealis, dan Visioner

Drh. Herliantien, M.P.
Memasuki
gerbang instansi ini, redaksi dibuat sangat kagum. Itulah
Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari yang mempunyai luas
67 ha dan terletak di kaki Gunung Arjuno, tepatnya di desa
Toyomerto, Singosari Sepanjang jalur menuju gedung utama,
taman ditata sedemikian apik dan bersih terawat.
Kesan
mewah dan feminin terasa kental pada warna kusen, dinding
dan sudut-sudut ruangan. Bersih dan sangat memperhatikan kehigienisan.
Tidak heran bila banyak penghargaan diterima balai ini pada
tahun 2004.
Dibawah
kepemimpinan Drh Herliantien, M.P., balai ini melejit pada
jalur yang mulai mengglobal. Berbagai gebrakan dilakukannya
untuk menaikkan status balai ini sekaligus supaya dapat terakreditasi.
Kerja keras ini tidak sia-sia. Pada tahun 2004, tepatnya tanggal
12 Oktober, BBIB menerima sertifikat akreditasi laboratorium
uji mutu semen untuk Asia Pasifik, SNI 19-17025-2000.
Banyak
penghargaan prestisius yang diraih balai ini. Pada tahun yang
sama. Indolivestock Award diberikan oleh Menteri Pertanian.
Bangganya, balai ini merupakan satu-satunya instansi pemerintah
di antara instansi swasta lainnya. Tidak hanya itu, pada akhir
tahun 2004, Ibu Presiden Megawati Sukarnoputri berkenan menyerahkan
Piala Citra Pelayanan Prima kepada balai yang memang mengutamakan
pelayanan mutu dan purna jual kepada pelanggannya.
Ibu
yang naik ke tampuk pimpinan pada tanggal 13 Agustus 2003
dan masih tampak sangat energik ini juga mempunyai banyak
agenda yang sudah dan yang masih ingin diwujudkannya. Ada
beberapa impian yang ingin beliau kembangkan sejak beliau
masih bekerja sebagai kepala laboratorium. Antara lain, sexing
sperma pada sapi dan kambing, produksi frozen semen pada ikan
mas punten dan koi dan menciptakan bangsa sapi potong baru
Indonesia.
Mengulas
bangsa sapi potong baru, program ini dikenal dengan program
komposit. Yaitu menyilangkan sapi Bali, Simental dan Onggul.
Keunggulan bangsa ini, mempunyai calving interval, berat karkas,
dan tahan caplak seperti sapi Bali tetapi besarnya seperti
Bos Taurus. Diperkirakan hasil ini akan dicapai setelah program
ini berjalan selama 12 tahun. Bangsa ini akan diberi nama
Indonesian Red. Disamping sapi potong, BBIB telah meluncurkan
Sapi Perah Indonesia, pada tahun 2004 pula.
Meskipun
pekerjaan yang digeluti berhubungan dengan keperkasaan, tidaklah
kemudian membuat beliau terlihat kelaki-lakian. Ada motto
yang mengagumkan dari beliau yang membawahi 30 % karyawati,
"Jangan takut meskipun perempuan, tetapi juga jangan menyalahi
kodrat". Karena itu meskipun tempatnya sedikit terpencil di
kaki gunung, beliau tidak ingin berpenampilan 'gunung'. Sedang
disusun rencana mendatangkan guru yang mengajarkan tentang
kewanitaan dan kepribadian pada seluruh karyawatinya.
Sukses
mengantarkan ke dua buah hatinya pada perguruan tinggi negeri
-yakni Almanda B. yang kini berusia 22 tahun, dan Bayuseta
A.J. yang berusia 19 tahun- seakan memberi garansi pada seluruh
lapisan yang dibawahinya. Beliau memberikan kesempatan pada
jajaran strukturalnya untuk menyelesaikan pendidikan pada
jenjang yang lebih tinggi dan memberikan pelajaran Bahasa
Inggris pada seluruh karyawan BBIB yang dipimpinnya.
Ibu
yang menyukai warna merah dan hobi makan ikan ini sangat memperhatikan
kesejahteraan karyawannya. Untuk mempererat ikatan di antara
warga BBIB, sebulan sekali diadakan acara makan bersama. Beliau
tidak juga ototriter. Ini dapat dilihat dari tertampungnya
semua ide dari semua personel yang dipimpinnya. Ide ini kemudian
akan dibawa pada rapat bersama, dibicarakan bersama, dan dijalankan
bersama. Contoh yang baik, adalah dengan dibuatnya taman-taman
oleh semua karyawan dan kemudian dilombakan. Ini sangat dirasakan
gaungnya oleh segenap warga BBIB.
Kesan
yang sempat redaksi simpulkan dari staf beliau, "Ibu mempunyai
kelebihan untuk menyatukan seluruh unit, tegas, kreatif, mempunyai
target, dan semangatnya luar biasa.
(Liz,May)
|