|
Profil
Drh.
Elizabeth Magdalena Plasman
Kreatif dan Trendy

Drh.
Elizabeth Magdalena Plasman
Asri
dan nyaman, itulah kesan pertama ketika redaksi dipersilahkan
masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang ukurannya tidak terlalu
besar. Terlihat kain tenun biru cantik menjuntai dari sebatang
kayu ukir yang terpaku di tembok. Beberapa pot tanaman ikut
ditata serasi disudut ruangan berdampingan dengan sebuah lemari
yang dipenuhi pernak-pernik berbentuk sapi perah.
Lulus
dari FKH UGM pada tanggal 30 Desember 1984, Liz, demikian
beliau lebih suka disebut untuk memudahkan peternak memanggil
namanya yang cukup panjang-Elizabeth Magdalena Plasman- ketika
sapi-sapi mereka dikunjungi. Ya, beliau bekerja sejak Februari
1985 hingga kini di sebuah koperasi air susu sapi perah di
sebelah barat kabupaten Malang, tepatnya di kecamatan Pujon.
Dengan
populasi sejumlah 20 ribuan, beliau bertanggung jawab khususnya
pada inseminasi buatan dan masalah reproduksi yang cukup merepotkan.
Beliau mulai menggeluti reproduction disorders and beyond
sejak awal karirnya. Memang tidak banyak dokter hewan, khususnya
wanita, yang menangani kasus-kasus reproduksi pada sapi perah,
dan inilah yang menjadi obor semangat kerjanya.

Drh. Elizabeth menunjukkan koleksi kain-kain tradisional miliknya
Di
sela waktu dan program kerjanya, beliau masih mempunyai setumpuk
kesibukan yang berkaitan dengan hobinya. Sejak beberapa tahun
yang lalu beliau membuat karya seni berupa kotak perhiasan
yang semuanya dijahit dengan tangannya sendiri. Keunggulannya
adalah tidak digunakan lem setitikpun untuk merekatkannya,
dan tidak pernah dibuat desain yang sama atau kembar. Hampir
semua hasil karyanya terserap habis di kalangan tertentu di
ibukota, karena apresiasi akan barang seni disana cukup tinggi.
Beberapa pameran pernah diikuti, tetapi karena keterbatasan
waktu dan tenaga, beliau tidak dapat memenuhi semua pesanan
dengan mudah.
Tidak
saja itu, sejak sepuluh tahun yang lalu, beliau menjadi ketua
umum sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan sekolah
formal khususnya TK dan SD di Batu, kota yang menjadi pilihan
hidupnya.
Mengajar
mungkin sudah menjadi bakat terlahirnya, meskipun tidak mudah
untuk membagi waktu, beliau tetap mempertahankan profesi sampingannya
sebagai pembimbing anak-anak usia SD di tempatnya beribadah.
"Itu adalah sebuah keseimbangan hidup", terangnya jujur ketika
redaksi menanyakan alasannya.
Bercerita
tentang masa mudanya, wanita cantik yang suka makan rendang
ini, pernah pula menjadi runner-up putri Santa Maria, sekolah
dimana ia mengenyam pendidikan dasar dan pernah pula masuk
5 besar putri pelajar se-Kotamadya Surabaya, prestasi ini
masih berbekas dari penampilannya hingga kini, trendy.

Bersama 3 dari 4 orang anaknya: Ersa, Bunga, dan Damar
Ibu
yang lahir di Surabaya 24 Maret, 45 tahun silam, juga tidak
meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu dari 4 orang
anak. Antar-jemput masih dilakukannya di sela-sela waktunya
yang padat. "Itu hanya salah satu cara kita dapat menunjukkan
kasih pada mereka dan sekaligus memberi contoh bagaimana mengolah
waktu dengan baik", itulah jawaban yang keluar spontan.
Akhir
dari kunjungan, redaksi dibawa ke studio kerjanya untuk melihat
karya lukisan dan beberapa kotak perhiasan yang masih dalam
tahap pengerjaan. Melewati sebuah almari cukup besar, di perbatasan
ruang tamu dan ruang tengah, terisi koleksi kain tenun dan
batik dari berbagai daerah di Indonesia (pada saat wawancara
ini dilangsungkan, beliau menceritakan sejarah dan asal beberapa
koleksi yang beliau miliki). Hobby seperti ini cukup unik
bagi seorang dokter hewan, tetapi Drh. Liz telah membuktikan
bahwa kesibukan dan keterbatasan sebagai dokter hewan tidak
berarti keterbatasan kreatifitas, tanggung jawab dan kesukaan.
(Dd,May)
|