Edisi 005
April 2005

Artikel Utama
Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan di Indonesia, Masih Adakah Taringnya?


Profil
Drh. Elizabeth Magdalena Plasman

Drh. Martha Sri Wilujeng

Drh. Herliantien, M.P.

Press Release DEPTAN
Perkembangan Penanggulangan Wabah Avian Influenza

Konsultasi
Vaksinasi Pada Anjing


Seri Continuing Education
Hip Displasia Pada Anjing dan Feline Urologic Syndrome Pada Kucing

Dari anda
Resolusi 2005, Keep On Clubbing!

Profil

Drh. Elizabeth Magdalena Plasman
Kreatif dan Trendy


Drh. Elizabeth Magdalena Plasman

Asri dan nyaman, itulah kesan pertama ketika redaksi dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu rumahnya yang ukurannya tidak terlalu besar. Terlihat kain tenun biru cantik menjuntai dari sebatang kayu ukir yang terpaku di tembok. Beberapa pot tanaman ikut ditata serasi disudut ruangan berdampingan dengan sebuah lemari yang dipenuhi pernak-pernik berbentuk sapi perah.

Lulus dari FKH UGM pada tanggal 30 Desember 1984, Liz, demikian beliau lebih suka disebut untuk memudahkan peternak memanggil namanya yang cukup panjang-Elizabeth Magdalena Plasman- ketika sapi-sapi mereka dikunjungi. Ya, beliau bekerja sejak Februari 1985 hingga kini di sebuah koperasi air susu sapi perah di sebelah barat kabupaten Malang, tepatnya di kecamatan Pujon.

Dengan populasi sejumlah 20 ribuan, beliau bertanggung jawab khususnya pada inseminasi buatan dan masalah reproduksi yang cukup merepotkan. Beliau mulai menggeluti reproduction disorders and beyond sejak awal karirnya. Memang tidak banyak dokter hewan, khususnya wanita, yang menangani kasus-kasus reproduksi pada sapi perah, dan inilah yang menjadi obor semangat kerjanya.


Drh. Elizabeth menunjukkan koleksi kain-kain tradisional miliknya

Di sela waktu dan program kerjanya, beliau masih mempunyai setumpuk kesibukan yang berkaitan dengan hobinya. Sejak beberapa tahun yang lalu beliau membuat karya seni berupa kotak perhiasan yang semuanya dijahit dengan tangannya sendiri. Keunggulannya adalah tidak digunakan lem setitikpun untuk merekatkannya, dan tidak pernah dibuat desain yang sama atau kembar. Hampir semua hasil karyanya terserap habis di kalangan tertentu di ibukota, karena apresiasi akan barang seni disana cukup tinggi. Beberapa pameran pernah diikuti, tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, beliau tidak dapat memenuhi semua pesanan dengan mudah.

Tidak saja itu, sejak sepuluh tahun yang lalu, beliau menjadi ketua umum sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan sekolah formal khususnya TK dan SD di Batu, kota yang menjadi pilihan hidupnya.

Mengajar mungkin sudah menjadi bakat terlahirnya, meskipun tidak mudah untuk membagi waktu, beliau tetap mempertahankan profesi sampingannya sebagai pembimbing anak-anak usia SD di tempatnya beribadah. "Itu adalah sebuah keseimbangan hidup", terangnya jujur ketika redaksi menanyakan alasannya.

Bercerita tentang masa mudanya, wanita cantik yang suka makan rendang ini, pernah pula menjadi runner-up putri Santa Maria, sekolah dimana ia mengenyam pendidikan dasar dan pernah pula masuk 5 besar putri pelajar se-Kotamadya Surabaya, prestasi ini masih berbekas dari penampilannya hingga kini, trendy.


Bersama 3 dari 4 orang anaknya: Ersa, Bunga, dan Damar

Ibu yang lahir di Surabaya 24 Maret, 45 tahun silam, juga tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu dari 4 orang anak. Antar-jemput masih dilakukannya di sela-sela waktunya yang padat. "Itu hanya salah satu cara kita dapat menunjukkan kasih pada mereka dan sekaligus memberi contoh bagaimana mengolah waktu dengan baik", itulah jawaban yang keluar spontan.

Akhir dari kunjungan, redaksi dibawa ke studio kerjanya untuk melihat karya lukisan dan beberapa kotak perhiasan yang masih dalam tahap pengerjaan. Melewati sebuah almari cukup besar, di perbatasan ruang tamu dan ruang tengah, terisi koleksi kain tenun dan batik dari berbagai daerah di Indonesia (pada saat wawancara ini dilangsungkan, beliau menceritakan sejarah dan asal beberapa koleksi yang beliau miliki). Hobby seperti ini cukup unik bagi seorang dokter hewan, tetapi Drh. Liz telah membuktikan bahwa kesibukan dan keterbatasan sebagai dokter hewan tidak berarti keterbatasan kreatifitas, tanggung jawab dan kesukaan. (Dd,May)

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by