Edisi 005
April 2005

Artikel Utama
Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan di Indonesia, Masih Adakah Taringnya?


Profil
Drh. Elizabeth Magdalena Plasman

Drh. Martha Sri Wilujeng

Drh. Herliantien, M.P.

Press Release DEPTAN
Perkembangan Penanggulangan Wabah Avian Influenza

Konsultasi
Vaksinasi Pada Anjing


Seri Continuing Education
Hip Displasia Pada Anjing dan Feline Urologic Syndrome Pada Kucing

Dari anda
Resolusi 2005, Keep On Clubbing!

Artikel Utama


Pendidikan Tinggi Kedokteran Hewan di Indonesia, Masih Adakah Taringnya?
Oleh: Deddy F. Kurniawan

Isu pasar bebas tidak hanya menghantui dunia ekonomi dan bisnis di Indonesia, namun ternyata juga cukup mengganggu "adem ayem-nya" dunia kedokteran hewan di Indonesia. Banyak orang bilang akan ada banyak dokter hewan luar negeri datang dan "kita" tidak akan bisa bersaing dengan mereka, benarkah ?

Apakah sebegitu parahnya kualitas dokter hewan Indonesia sehingga kita perlu "takut tersaingi"?

Begitu hebatkah dokter hewan "luar negeri" sehingga kita perlu khawatir "ga' kebagian rejeki"?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul tidak lain adalah mungkin karena adanya tanda-tanda keraguan tentang kualitas dokter hewan "lulusan Indonesia", mungkin karena ketidaktahuan informasi kemajuan dunia pendidikan kedokteran hewan di Indonesia (jika memang mangalami kemajuan) atau mungkin kesadaran diri akan kemampuan dan keahlian.

Salah seorang redaksi Koran PDHI ini memiliki pengalaman ketika berada di New Zealand beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, saat ini tidak ada dokter hewan Indonesia yang punya kesempatan untuk berpraktek (secara normal dan legal) di New Zealand meskipun kenyataannya New Zealand masih membutuhkan dokter hewan dalam jumlah yang cukup besar untuk mengcover seluruh New Zealand. Kalaupun ditemukan terdapat dokter hewan yang bekerja di New Zealand, dia dapat melakukan pekerjaan secara sangat terbatas, tidak bisa "sebebas" dan "seleluasa" dokter hewan pada umumnya meskipun (mungkin) dia bisa melakukan pekerjaan medis seperti dokter hewan New Zealand yang lain. Salah satu sebab utamanya adalah karena kualifikasi dokter hewan Indonesia tidak dikenal di New Zealand dan akhirnya ijin praktek tidak bisa diberikan untuk dokter hewan lulusan Indonesia.

Ironis, kan? di satu sisi kita takut akan datangnya pasar bebas dan dokter hewan "luar negeri" yang akan membanjiri Indonesia dan di sisi lain kita juga takut karena kita -dokter hewan Indonesia- tidak bisa "ikut-ikutan menjajah" negeri lain. Kebanyakan komentar yang dikeluarkan adalah kekhawatiran akan ketidakmampuan kita untuk "bersaing".

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kekhawatiran tersebut berpulang pada bagaimana pendidikan tinggi dokter hewan menyiapkan tenaga medis veteriner di Indonesia serta dukungan berbagai pihak akan hal ini. Sehingga pertanyaan yang perlu dan segera mendapat jawaban adalah apakah pendidikan kedokteran hewan di Indonesia memang benar-benar disiapkan untuk mencetak "Dokter Hewan" ? Jika jawabannya ya, pertanyaan berikutnya adalah, "Dokter Hewan seperti apa yang ingin dicetak oleh pendidikan tinggi kedokteran hewan di Indonesia? " Tidak berhenti disitu, pertanyaan yang lain adalah, "apakah kita serius ingin mencetak Dokter Hewan di Indoesia?" dan "Apa yang sedang terjadi pada Dokter Hewan di Indonesia?".

Permasalahan ini tidak sederhana dan wajar diajukan karena umur pendidikan tinggi kedokteran hewan di Indonesia sudah mencapai lebih dari 100 tahun. Waktu yang lebih dari cukup untuk mengevaluasi kiprahnya dalam mempengaruhi dunia veteriner di Indonesia. Sebagai bahan pemikiran, mari kita ingat kembali saat dilaksanakannya Pengambilan Sumpah Dokter Hewan (PSDH). Kita bangga dan senang karena diumumkan bahwa hampir semua dokter hewan yang disumpah pada saat itu sudah bekerja. Kemudian diumumkan pula bahwa hanya sedikit persen saja yang benar-benar bekerja sebagai "dokter hewan", benar? Ironis, bukan?

Sebagian besar dokter hewan yang dihasilkan tidak bekerja sebagai "dokter hewan sebenarnya". Mungkin karena tidak ada lapangan pekerjaan untuk "seorang dokter hewan" atau mungkin dokter hewan tidak ingin bekerja sebagai "dokter hewan" karena tidak cukup menarik untuk menjadi dokter hewan?

Dalam edisi ini dan edisi berikutnya, kami akan berusaha menampilkan profil beberapa perguruan tinggi di Indonesia tempat tercetaknya dokter hewan di Indonesia. Semoga membantu dan menjadi bahan pemikiran serta renungan. Selamat membaca!

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by