Edisi 004

Artikel Utama
Flu Burung dan Pembodohan Profesi

Herpes Virus Pada Primata

Profil
Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan

Poultry World
Masa Indukan Pada Anak Ayam

Liputan
Pesona Peternakan New Zealand

Liputan

Pesona Peternakan New Zealand
Oleh: Drh. Heru S. Prabowo
Veterinary Services Team, PT Greenfields Indonesia Dairy Farm, Gunung Kawi - Malang


Drh. Heru S. Prabowo

New Zealand adalah negara peternakan atau peternakan yang dikelola oleh negara. Kesan itulah yang pertama muncul dalam pikiran saya saat menginjakkan kaki pertama kali di sana. Sepanjang penerbangan dari Auckland menuju Rotorua selama sekitar 20 menit terlihat hamparan hijau dengan banyak titik-titik kecil berwarna hitam putih terlihat dari ketinggian yang merupakan gambaran paddock berisi sapi dan ternak lain. Diantara hamparan hijau tersebut diselingi oleh beberapa bentuk tak beraturan berisi air yang merupakan gambaran beberapa danau yang memang cukup banyak jumlahnya di Rotorua.

Hampir semua peternakan sapi perah di sana menggunakan model ranch, padang rumput. Sapi dilepas di paddock-paddock. Sumber makanan utamanya adalah rumput yang tumbuh di paddock tersebut. Tetapi jangan membayangkan bahwa ranch dibiarkan begitu saja tanpa ada pengaturan tumbuh rumputnya. Pengelolaan rumput dan pertumbuhannya diatur dengan menggunakan perhitungan-perhitungan yang tidak mudah. Hal itu karena dipengaruhi oleh musim, jenis rumput, luas lahan, pemupukan dan faktor kesuburan tanahnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan padang rumput sudah diketahui secara luas oleh peternak karena dukungan infrastruktur dan hasil riset yang telah lama dilakukan.

Dalam satu ranch dibagi menjadi beberapa paddock yang luas masing-masing tergantung dari luas tanah dan jumlah populasi sapinya. Sebagai gambaran, satu hektar padang rumput mampu digunakan untuk menggembalakan sapi perah antara 3-5 ekor pertahun. Rata-rata kepemilikan sapi disana minimal 200 ekor. Jadi bisa dihitung berapa luas padang rumput yang harus dimiliki seorang peternak yang mempunyai 200 ekor sapi perah. Pergiliran paddock yang akan digunakan juga sangat menentukan pengelolaan peternakan sapi perah. Berapa luas masing-masing paddock dan setiap berapa hari sekali ternak harus digilir ke paddock berikutnya merupakan salah satu kunci pengelolaan sapi perah agar daya dukung padang rumput bisa efisien.

Sistem peternakan sapi perah di New Zealand juga sangat berbeda dengan umumnya di Indonesia. Kalau di Indonesia musim beranaknya bisa terjadi sepanjang tahun (year round calving), di New Zealand musim beranaknya terjadi pada musim-musim tertentu saja (seasonal calving). Kelahiran terjadi dimusim semi (Spring) yang biasanya terjadi mulai Agustus sampai Oktober. Musim kawin (breeding season) biasanya terjadi antara pertengahan Oktober sampai Januari dan seterusnya. Hal ini terjadi serempak dalam kisaran waktu yang bersamaan di New Zealand.

Menurut pengamatan saya, ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan padang gembalaan sebagai sistem peternakan sapi perah. Pertama dari sisi alamiah sapi sebagai herbivora yang makanan utamanya rumput, sapi mendapatkan lingkungan dan pakan yang sesuai dengan nature-nya. Kedua dari sisi peternak, mereka tidak membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merawat sapi dan lingkungannya. Tidak seperti halnya yang terjadi bila kita mengandangkannya. Tidak perlu membersihkan kandang, membangun kandang dan sarana pendukung kandang. Yang ketiga dan yang utama adalah bahwa peternak bisa menekan biaya untuk pakan. Umumnya dalam suatu peternakan, biaya utama adalah 60 - 70 % untuk pakan. Kalau semua kebutuhan pakan bisa dicukupi dari mengelola padang rumput berarti biaya pakan bisa ditekan sedemikian rupa sehingga bisa meningkatkan keuntungan.

Saya sempat berdiskusi dengan seorang dokter hewan yang mempunyai sebuah praktek besar di kota Matamata, sekitar 100 km ke arah selatan Auckland dan dia merupakan dokter hewan senior yang dikenal luas di New Zealand. Dia mengatakan bahwa kunci dari berkembangnya peternakan sapi perah di New Zealand adalah dari sisi efisiensinya. Riset yang dilakukan selama bertahun-tahun ditujukan agar bagaimana bisa menciptakan sebuah peternakan sapi perah yang efisien dan mampu bersaing ditingkat global. Dan hasilnya sekarang mulai kelihatan. Anda bisa bayangkan, negara sekecil New Zealand yang luas keseluruhan negaranya tidak lebih besar dari pulau Jawa tetapi bisa menjadi pemain kunci dalam industri agribisnis khususnya dalam persusuan global (memainkan 31% dari total perdagangan susu dunia). Anda juga bisa membayangkan bagaimana cara mereka mengelola peternakannya sehingga produk susu yang dihasilkan oleh peternak New Zealand yang berada di hemisfer selatan bumi bisa dijual ke Kanada dan Amerika Serikat yang berada di hemisfer utara bumi dengan harga yang mengkhawatirkan pemerintah negara setempat karena masih bisa bersaing dalam kisaran harga yang berlaku di negara tersebut. Kuncinya adalah efisiensi. Salah satunya adalah dengan kemampuan menekan biaya pakan. Padang gembalaan adalah caranya.

Harga susu, kalau dikurskan ke rupiah sekitar Rp 1700-1800 per liter (meskipun dasar harganya berdasar milk solid). Fonterra merupakan pemain utama dalam industri persusuan di New Zealand. Fonterra merupakan perusahaan terbesar bukan hanya dibidang industri persusuan tetapi juga yang terbesar bila dibandingkan dengan semua perusahaan yang ada di New Zealand. Selain Fonterra sebagai pemain utama bisnis persusuan (menguasai 98% pasar susu New Zealand), juga ada Westland dan Tatua. Ketiganya merupakan perusahaan yang berbentuk koperasi yang sahamnya dimiliki oleh peternak. Fonterra didirikan tahun 2001 dan mempunyai 20.000 staf yang tersebar di 120 negara di dunia. Westland Co-Operative Dairy Company Ltd dan Tatua Co-Operative Dairy Company Ltd memilih untuk tidak bergabung dengan Fonterra dan mereka mengendalikan ekspor produk susu mereka sendiri di luar Fonterra.

Hanya ada satu Fakultas Kedokteran Hewan di New Zealand yaitu di Massey University. Lulusan yang dihasilkan hanya 50 orang pertahun. Peran dokter hewan sangat besar dalam perkembangan industri persusuan. Praktek dokter hewan bersama sangat banyak jumlahnya di New Zealand. Mereka bergabung antara 4-10 orang dokter hewan yang menjalankan klinik hewan dan memenuhi panggilan dari peternak. Penghargaan yang diterima dari sisi finansial juga lebih dari layak atau bisa dikatakan relatif tinggi.

Sebagai gambaran, klinik tempat saya bekerja selama dua bulan mempunyai klien sekitar 250 farm yang tersebar disekitar Rotorua. Tiap farm mempunyai sapi minimal 200 ekor, kebanyakan lebih dari itu. Tarif yang diberlakukan pada peternak adalah pada lama servis, jarak dan obat yang digunakan. Service umumnya sekitar 120 NZD per jam atau 2 NZD per menit atau sekitar Rp 10.000 per menit. Belum lagi komponen jarak dan harga obat. Pernah saya mempunyai pengalaman ada panggilan dari peternak yang jaraknya sekitar 25 km dari klinik, keterangan dari peternak mengatakan bahwa sapi mengalami kesulitan kelahiran, sudah dicoba bantu oleh pemiliknya tetapi tidak bisa keluar juga. Akhirnya saya dan salah seorang dokter hewan yang bergabung dengan klinik tempat saya bekerja menuju ke farm tersebut. Saya sendiri yang mendiagnosa seberapa besar kesulitannya. Ternyata masalahnya sangat mudah, kepala pedet menekuk ke kiri. Dengan sedikit reposisi letak kepala saya bisa mengeluarkan pedet yang sudah mati tersebut kurang dari 5 menit.

Selesai penanganan saya bertanya kepada dokter hewan berapa biaya yang harus dibayarkan peternak tersebut. Setelah dihitung-hitung dari berapa lama, berapa jarak dan obat apa, peternak harus membayar sekitar 98 NZD atau sekitar Rp 490.000 untuk kerja sekitar kurang dari 5 menit ! Begitu tinggi penghargaan finansial yang didapatkan oleh seorang dokter hewan disana. Untuk operasi lebih mahal lagi. Sekali operasi Caesar peternak harus membayar sekitar 350 - 500 NZD atau sekitar Rp 1.750.000 - 2.500.000!

Infrastruktur pendukung dokter hewan dalam bekerja juga relatif tersedia lengkap. Ada laboratorium khusus hewan yang melayani semua pengiriman sample dari dokter hewan untuk menguatkan sebuah diagnosa dengan hasil akurat dan cepat. NZVA (New Zealand Veterinary Association) merupakan sebuah lembaga tempat bernaungnya dokter hewan di New Zealand. Ada jurnal yang terbit rutin dan berbobot, ada Vet script yang munculnya lebih sering, mempunyai website yang bisa diakses dokter hewan yang menjadi anggotanya dan berisi informasi yang sangat berguna. Ada juga perhimpunan dokter hewan yang mempunyai minat sama terhadap bidang tertentu seperti kelompok minat sapi perah (Dairy Cattle Veterinary - DCV) dan kelompok minat lain dan semuanya berkembang.

Pesona New Zealand sebagai salah satu ikon peternakan dunia memang sangat terasa saat saya berada di sana selama 2 bulan. Saya jadi membayangkan kalau saja dunia peternakan khususnya sapi perah di Indonesia bisa seperti di New Zealand, alangkah bangganya bisa menjadi seorang dokter hewan.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by