|
Liputan
Pesona
Peternakan New Zealand
Oleh:
Drh. Heru S. Prabowo
Veterinary Services Team, PT Greenfields
Indonesia Dairy Farm, Gunung Kawi - Malang

Drh.
Heru S. Prabowo
New
Zealand adalah negara peternakan atau peternakan yang dikelola
oleh negara. Kesan itulah yang pertama muncul dalam pikiran
saya saat menginjakkan kaki pertama kali di sana. Sepanjang
penerbangan dari Auckland menuju Rotorua selama sekitar 20
menit terlihat hamparan hijau dengan banyak titik-titik kecil
berwarna hitam putih terlihat dari ketinggian yang merupakan
gambaran paddock berisi sapi dan ternak lain. Diantara hamparan
hijau tersebut diselingi oleh beberapa bentuk tak beraturan
berisi air yang merupakan gambaran beberapa danau yang memang
cukup banyak jumlahnya di Rotorua.
Hampir
semua peternakan sapi perah di sana menggunakan model ranch,
padang rumput. Sapi dilepas di paddock-paddock. Sumber makanan
utamanya adalah rumput yang tumbuh di paddock tersebut. Tetapi
jangan membayangkan bahwa ranch dibiarkan begitu saja tanpa
ada pengaturan tumbuh rumputnya. Pengelolaan rumput dan pertumbuhannya
diatur dengan menggunakan perhitungan-perhitungan yang tidak
mudah. Hal itu karena dipengaruhi oleh musim, jenis rumput,
luas lahan, pemupukan dan faktor kesuburan tanahnya. Faktor-faktor
yang mempengaruhi pengelolaan padang rumput sudah diketahui
secara luas oleh peternak karena dukungan infrastruktur dan
hasil riset yang telah lama dilakukan.
Dalam
satu ranch dibagi menjadi beberapa paddock yang luas masing-masing
tergantung dari luas tanah dan jumlah populasi sapinya. Sebagai
gambaran, satu hektar padang rumput mampu digunakan untuk
menggembalakan sapi perah antara 3-5 ekor pertahun. Rata-rata
kepemilikan sapi disana minimal 200 ekor. Jadi bisa dihitung
berapa luas padang rumput yang harus dimiliki seorang peternak
yang mempunyai 200 ekor sapi perah. Pergiliran paddock yang
akan digunakan juga sangat menentukan pengelolaan peternakan
sapi perah. Berapa luas masing-masing paddock dan setiap berapa
hari sekali ternak harus digilir ke paddock berikutnya merupakan
salah satu kunci pengelolaan sapi perah agar daya dukung padang
rumput bisa efisien.
Sistem
peternakan sapi perah di New Zealand juga sangat berbeda dengan
umumnya di Indonesia. Kalau di Indonesia musim beranaknya
bisa terjadi sepanjang tahun (year round calving), di New
Zealand musim beranaknya terjadi pada musim-musim tertentu
saja (seasonal calving). Kelahiran terjadi dimusim semi (Spring)
yang biasanya terjadi mulai Agustus sampai Oktober. Musim
kawin (breeding season) biasanya terjadi antara pertengahan
Oktober sampai Januari dan seterusnya. Hal ini terjadi serempak
dalam kisaran waktu yang bersamaan di New Zealand.
Menurut
pengamatan saya, ada beberapa keuntungan yang didapatkan dengan
menggunakan padang gembalaan sebagai sistem peternakan sapi
perah. Pertama dari sisi alamiah sapi sebagai herbivora yang
makanan utamanya rumput, sapi mendapatkan lingkungan dan pakan
yang sesuai dengan nature-nya. Kedua dari sisi peternak, mereka
tidak membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merawat sapi dan
lingkungannya. Tidak seperti halnya yang terjadi bila kita
mengandangkannya. Tidak perlu membersihkan kandang, membangun
kandang dan sarana pendukung kandang. Yang ketiga dan yang
utama adalah bahwa peternak bisa menekan biaya untuk pakan.
Umumnya dalam suatu peternakan, biaya utama adalah 60 - 70
% untuk pakan. Kalau semua kebutuhan pakan bisa dicukupi dari
mengelola padang rumput berarti biaya pakan bisa ditekan sedemikian
rupa sehingga bisa meningkatkan keuntungan.

Saya
sempat berdiskusi dengan seorang dokter hewan yang mempunyai
sebuah praktek besar di kota Matamata, sekitar 100 km ke arah
selatan Auckland dan dia merupakan dokter hewan senior yang
dikenal luas di New Zealand. Dia mengatakan bahwa kunci dari
berkembangnya peternakan sapi perah di New Zealand adalah
dari sisi efisiensinya. Riset yang dilakukan selama bertahun-tahun
ditujukan agar bagaimana bisa menciptakan sebuah peternakan
sapi perah yang efisien dan mampu bersaing ditingkat global.
Dan hasilnya sekarang mulai kelihatan. Anda bisa bayangkan,
negara sekecil New Zealand yang luas keseluruhan negaranya
tidak lebih besar dari pulau Jawa tetapi bisa menjadi pemain
kunci dalam industri agribisnis khususnya dalam persusuan
global (memainkan 31% dari total perdagangan susu dunia).
Anda juga bisa membayangkan bagaimana cara mereka mengelola
peternakannya sehingga produk susu yang dihasilkan oleh peternak
New Zealand yang berada di hemisfer selatan bumi bisa dijual
ke Kanada dan Amerika Serikat yang berada di hemisfer utara
bumi dengan harga yang mengkhawatirkan pemerintah negara setempat
karena masih bisa bersaing dalam kisaran harga yang berlaku
di negara tersebut. Kuncinya adalah efisiensi. Salah satunya
adalah dengan kemampuan menekan biaya pakan. Padang gembalaan
adalah caranya.
Harga
susu, kalau dikurskan ke rupiah sekitar Rp 1700-1800 per liter
(meskipun dasar harganya berdasar milk solid). Fonterra merupakan
pemain utama dalam industri persusuan di New Zealand. Fonterra
merupakan perusahaan terbesar bukan hanya dibidang industri
persusuan tetapi juga yang terbesar bila dibandingkan dengan
semua perusahaan yang ada di New Zealand. Selain Fonterra
sebagai pemain utama bisnis persusuan (menguasai 98% pasar
susu New Zealand), juga ada Westland dan Tatua. Ketiganya
merupakan perusahaan yang berbentuk koperasi yang sahamnya
dimiliki oleh peternak. Fonterra didirikan tahun 2001 dan
mempunyai 20.000 staf yang tersebar di 120 negara di dunia.
Westland Co-Operative Dairy Company Ltd dan Tatua Co-Operative
Dairy Company Ltd memilih untuk tidak bergabung dengan Fonterra
dan mereka mengendalikan ekspor produk susu mereka sendiri
di luar Fonterra.
Hanya
ada satu Fakultas Kedokteran Hewan di New Zealand yaitu di
Massey University. Lulusan yang dihasilkan hanya 50 orang
pertahun. Peran dokter hewan sangat besar dalam perkembangan
industri persusuan. Praktek dokter hewan bersama sangat banyak
jumlahnya di New Zealand. Mereka bergabung antara 4-10 orang
dokter hewan yang menjalankan klinik hewan dan memenuhi panggilan
dari peternak. Penghargaan yang diterima dari sisi finansial
juga lebih dari layak atau bisa dikatakan relatif tinggi.
Sebagai
gambaran, klinik tempat saya bekerja selama dua bulan mempunyai
klien sekitar 250 farm yang tersebar disekitar Rotorua. Tiap
farm mempunyai sapi minimal 200 ekor, kebanyakan lebih dari
itu. Tarif yang diberlakukan pada peternak adalah pada lama
servis, jarak dan obat yang digunakan. Service umumnya sekitar
120 NZD per jam atau 2 NZD per menit atau sekitar Rp 10.000
per menit. Belum lagi komponen jarak dan harga obat. Pernah
saya mempunyai pengalaman ada panggilan dari peternak yang
jaraknya sekitar 25 km dari klinik, keterangan dari peternak
mengatakan bahwa sapi mengalami kesulitan kelahiran, sudah
dicoba bantu oleh pemiliknya tetapi tidak bisa keluar juga.
Akhirnya saya dan salah seorang dokter hewan yang bergabung
dengan klinik tempat saya bekerja menuju ke farm tersebut.
Saya sendiri yang mendiagnosa seberapa besar kesulitannya.
Ternyata masalahnya sangat mudah, kepala pedet menekuk ke
kiri. Dengan sedikit reposisi letak kepala saya bisa mengeluarkan
pedet yang sudah mati tersebut kurang dari 5 menit.

Selesai
penanganan saya bertanya kepada dokter hewan berapa biaya
yang harus dibayarkan peternak tersebut. Setelah dihitung-hitung
dari berapa lama, berapa jarak dan obat apa, peternak harus
membayar sekitar 98 NZD atau sekitar Rp 490.000 untuk kerja
sekitar kurang dari 5 menit ! Begitu tinggi penghargaan finansial
yang didapatkan oleh seorang dokter hewan disana. Untuk operasi
lebih mahal lagi. Sekali operasi Caesar peternak harus membayar
sekitar 350 - 500 NZD atau sekitar Rp 1.750.000 - 2.500.000!
Infrastruktur
pendukung dokter hewan dalam bekerja juga relatif tersedia
lengkap. Ada laboratorium khusus hewan yang melayani semua
pengiriman sample dari dokter hewan untuk menguatkan sebuah
diagnosa dengan hasil akurat dan cepat. NZVA (New Zealand
Veterinary Association) merupakan sebuah lembaga tempat bernaungnya
dokter hewan di New Zealand. Ada jurnal yang terbit rutin
dan berbobot, ada Vet script yang munculnya lebih sering,
mempunyai website yang bisa diakses dokter hewan yang menjadi
anggotanya dan berisi informasi yang sangat berguna. Ada juga
perhimpunan dokter hewan yang mempunyai minat sama terhadap
bidang tertentu seperti kelompok minat sapi perah (Dairy Cattle
Veterinary - DCV) dan kelompok minat lain dan semuanya berkembang.
Pesona
New Zealand sebagai salah satu ikon peternakan dunia memang
sangat terasa saat saya berada di sana selama 2 bulan. Saya
jadi membayangkan kalau saja dunia peternakan khususnya sapi
perah di Indonesia bisa seperti di New Zealand, alangkah bangganya
bisa menjadi seorang dokter hewan.
|