|
Artikel
Utama

Herpes
Virus Pada Primata
Oleh: Drh.
Erni Suyanti
Penyakit
yang disebabkan oleh virus pada satwa liar memang sangat berbahaya
karena sulit didiagnosa dan diterapy bahkan ada beberapa yang
belum ditemukan obatnya. Banyak penyakit yang disebabkan oleh
virus pada primata bersifat zoonosis Salah satu penyakit infeksius
yang penting diketahui pada primata adalah Herpes virus. dimana
penyakit ini telah ditemukan menyerang berbagai macam species
primata, beberapa dari herpes virus tersebut menyebabkan penyakit
sistemik yang fatal dan sebagian besar bersifat laten (tidak
menunjukkan gejala klinis) pada reservoir host tetapi berakibat
fatal bila menyerang species lainnya termasuk manusia.
Dari
berbagai macam penyakit herpes virus yang menyerang primata,
kita cukup mengetahui terlebih dulu mengenai penyakit herpes
virus yang biasa menyerang species primata yang terdapat di
animal rescue center yang ada di Indonesia ataupun yang dipelihara
oleh masyarakat sebagai pet animal.
Herpes
Simiae (Herpes virus B)
Secara
alami virus ini terdapat pada monyet jenis Macaca dan sebagai
reservoir host adalah Macaca mullata (rhesus), Macaca fascicularis,
Macaca fuscata dan Macaca arctoides, ternyata pada Macaca
jenis lainnya juga dapat ditemukan virus ini melalui uji serologi.
Hampir semua macaca berpotensi carrier. Masa inkubasi pendek
yakni 4-10 hari. Monyet yang terinfeksi virus ini kadang tampak
sehat dan tidak menunjukkan gejala klinis. Bila ada gejala
klinis, tipe lesi ringan sehinga sulit dideteksi, lesi biasanya
terdapat pada membrana mucosa dan bucal cavity dan kemungkinan
terdapat vesikel dan ulserasi disekitar bibir dan lubang hidung,
serta paling sering pada lidah. Kadang juga terlihat pada
genitalia. Lesi yang terjadi mirip dengan lesi yang ditimbulkan
oleh herpes virus simplex 1 pada manusia. Hanya 2-3 % gejala
seperti lesi terlihat jelas pada Macaca. Lesi yang terjadi
sering tidak diperhatikan oleh animal handler. Bila monyet
terinfeksi oleh virus ini maka seumur hidup virus ini akan
tetap ada dalam tubuhnya.
Pada
manusia yang tertular virus B ini akan menunjukkan gejala
klinis enchepalomyelitis, enchepalitis disertai dengan diplopia,
nystagmus, paresthesia pada kepala, leher dan ekstremitas
bagian atas. Bila infeksi berjalan akut akan menunjukkan gejala
klinis rasa sakit pada abdominal, demam, diare dan gangguan
syaraf serta keratoconjunctivitis. Bersifat fatal pada anak-anak
dimana dapat menyebabkan enchepalitis, myelitis dan foci nekrotik
pada hepar, empedu, limpha node dan ginjal. Dari 20 kasus
yang dilaporkan hanya 2 pasien yang bisa bertahan hidup. Penularan
dari monyet ke manusia bisa melalui gigitan, luka yang terkontaminasi
oleh saliva serta aerosol. Orang yang bekerja dengan satwa
liar (Macaca) baik dokter hewan ataupun animal keeper serta
masyarakat yang memelihara monyet sebagai pet animal mempunyai
resiko tinggi tertular. Untuk itu orang yang menangani primata
(Macaca) sebaiknya melakukan tindakan pencegahan dengan menggunakan
baju pengaman (cattle pack), masker, sarung tangan serta perlu
menggunakan sedasi misalnya dengan Ketamine hydrochloride
pada saat handling monyet.
Herpes
Hominis
Penyebabnya
adalah herpes virus simplex yang terdiri dari dua tipe, yakni
:
-
Virus herpes simplex tipe 1 (tipe oral), pada manusia
menyerang selubung saraf trigeminus atau ganglion saraf.
-
Virus herpes simplex tipe 2 (tipe genital) pada manusia
menimbulkan kerusakan pada daerah vulvovaginal.
Primata
golongan Gibbon (Hylobates spp) dan Marmoset beresiko tertular
herpes virus hominis dan bisa berakibat fatal. Pada manusia
yang terinfeksi virus ini manifestasi klinik yang khas adalah
pembentukan kelompok vesikel pada dasar eritematus, terutama
terdapat pada bibir, pipi, hidung (herpes simplex tipe 1),
preputium, vulva, vagina (herpes simplex tipe 2), pruritus
dan rasa terbakar, setelah satu minggu vesikel mengering terbentuk
krusta.
Berdasarkan
studi yang pernah dilaporkan bahwa antibodi terhadap virus
ini sangat rendah pada Gibbon, gorilla dan orangutan, sedangkan
pada chimpanzee mempunyai antibodi lebih tinggi. Biasanya
Gibbon seperti Owa dan Siamang tertular dari manusia, karena
hewan ini sangat dekat dan manja pada manusia apabila dijadikan
pet animal. Hewan yang terserang tidak menunjukkan gejala
klinis apabila infeksi berjalan secara laten, tetapi bisa
berakibat fatal bila hewan dalam kondisi stress bahkan setelah
lima hari terinfeksi bisa menyebabkan kematian.
Gejala
klinis yang tampak pada gibbon adalah adanya acne pada wajah,
tidak mau makan, lemah, lesu, hipersalivasi, kesulitan bernafas,
selalu mengepalkan tangan dan akhirnya mati.
Untuk
mengetahui adanya infeksi herpes virus pada Gibbon perlu dilalukan
uji serologi dengan ELISA untuk mengetahui adanya Herpes simplex
type 1 (HSV-1) dan type 2 (HSV-2) baik untuk mengetahui Immunoglobulin
G maupun Immunoglobulin M, Epstein-Barr virus (EBV) dan cytomegalovirus
(CMV). Setiap Gibbon dan Macaca yang baru datang di Pusat
Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu Malang dilakukan uji serologi
untuk mengetahui adanya infeksi herpes hominis ataupun simiae.
|