Edisi 004

Artikel Utama
Flu Burung dan Pembodohan Profesi

Herpes Virus Pada Primata

Profil
Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan

Poultry World
Masa Indukan Pada Anak Ayam

Liputan
Pesona Peternakan New Zealand

Artikel Utama

Herpes Virus Pada Primata
Oleh:
Drh. Erni Suyanti

Penyakit yang disebabkan oleh virus pada satwa liar memang sangat berbahaya karena sulit didiagnosa dan diterapy bahkan ada beberapa yang belum ditemukan obatnya. Banyak penyakit yang disebabkan oleh virus pada primata bersifat zoonosis Salah satu penyakit infeksius yang penting diketahui pada primata adalah Herpes virus. dimana penyakit ini telah ditemukan menyerang berbagai macam species primata, beberapa dari herpes virus tersebut menyebabkan penyakit sistemik yang fatal dan sebagian besar bersifat laten (tidak menunjukkan gejala klinis) pada reservoir host tetapi berakibat fatal bila menyerang species lainnya termasuk manusia.

Dari berbagai macam penyakit herpes virus yang menyerang primata, kita cukup mengetahui terlebih dulu mengenai penyakit herpes virus yang biasa menyerang species primata yang terdapat di animal rescue center yang ada di Indonesia ataupun yang dipelihara oleh masyarakat sebagai pet animal.

Herpes Simiae (Herpes virus B)
Secara alami virus ini terdapat pada monyet jenis Macaca dan sebagai reservoir host adalah Macaca mullata (rhesus), Macaca fascicularis, Macaca fuscata dan Macaca arctoides, ternyata pada Macaca jenis lainnya juga dapat ditemukan virus ini melalui uji serologi. Hampir semua macaca berpotensi carrier. Masa inkubasi pendek yakni 4-10 hari. Monyet yang terinfeksi virus ini kadang tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala klinis. Bila ada gejala klinis, tipe lesi ringan sehinga sulit dideteksi, lesi biasanya terdapat pada membrana mucosa dan bucal cavity dan kemungkinan terdapat vesikel dan ulserasi disekitar bibir dan lubang hidung, serta paling sering pada lidah. Kadang juga terlihat pada genitalia. Lesi yang terjadi mirip dengan lesi yang ditimbulkan oleh herpes virus simplex 1 pada manusia. Hanya 2-3 % gejala seperti lesi terlihat jelas pada Macaca. Lesi yang terjadi sering tidak diperhatikan oleh animal handler. Bila monyet terinfeksi oleh virus ini maka seumur hidup virus ini akan tetap ada dalam tubuhnya.

Pada manusia yang tertular virus B ini akan menunjukkan gejala klinis enchepalomyelitis, enchepalitis disertai dengan diplopia, nystagmus, paresthesia pada kepala, leher dan ekstremitas bagian atas. Bila infeksi berjalan akut akan menunjukkan gejala klinis rasa sakit pada abdominal, demam, diare dan gangguan syaraf serta keratoconjunctivitis. Bersifat fatal pada anak-anak dimana dapat menyebabkan enchepalitis, myelitis dan foci nekrotik pada hepar, empedu, limpha node dan ginjal. Dari 20 kasus yang dilaporkan hanya 2 pasien yang bisa bertahan hidup. Penularan dari monyet ke manusia bisa melalui gigitan, luka yang terkontaminasi oleh saliva serta aerosol. Orang yang bekerja dengan satwa liar (Macaca) baik dokter hewan ataupun animal keeper serta masyarakat yang memelihara monyet sebagai pet animal mempunyai resiko tinggi tertular. Untuk itu orang yang menangani primata (Macaca) sebaiknya melakukan tindakan pencegahan dengan menggunakan baju pengaman (cattle pack), masker, sarung tangan serta perlu menggunakan sedasi misalnya dengan Ketamine hydrochloride pada saat handling monyet.

Herpes Hominis
Penyebabnya adalah herpes virus simplex yang terdiri dari dua tipe, yakni :

- Virus herpes simplex tipe 1 (tipe oral), pada manusia menyerang selubung saraf trigeminus atau ganglion saraf.

- Virus herpes simplex tipe 2 (tipe genital) pada manusia menimbulkan kerusakan pada daerah vulvovaginal.

Primata golongan Gibbon (Hylobates spp) dan Marmoset beresiko tertular herpes virus hominis dan bisa berakibat fatal. Pada manusia yang terinfeksi virus ini manifestasi klinik yang khas adalah pembentukan kelompok vesikel pada dasar eritematus, terutama terdapat pada bibir, pipi, hidung (herpes simplex tipe 1), preputium, vulva, vagina (herpes simplex tipe 2), pruritus dan rasa terbakar, setelah satu minggu vesikel mengering terbentuk krusta.

Berdasarkan studi yang pernah dilaporkan bahwa antibodi terhadap virus ini sangat rendah pada Gibbon, gorilla dan orangutan, sedangkan pada chimpanzee mempunyai antibodi lebih tinggi. Biasanya Gibbon seperti Owa dan Siamang tertular dari manusia, karena hewan ini sangat dekat dan manja pada manusia apabila dijadikan pet animal. Hewan yang terserang tidak menunjukkan gejala klinis apabila infeksi berjalan secara laten, tetapi bisa berakibat fatal bila hewan dalam kondisi stress bahkan setelah lima hari terinfeksi bisa menyebabkan kematian.

Gejala klinis yang tampak pada gibbon adalah adanya acne pada wajah, tidak mau makan, lemah, lesu, hipersalivasi, kesulitan bernafas, selalu mengepalkan tangan dan akhirnya mati.

Untuk mengetahui adanya infeksi herpes virus pada Gibbon perlu dilalukan uji serologi dengan ELISA untuk mengetahui adanya Herpes simplex type 1 (HSV-1) dan type 2 (HSV-2) baik untuk mengetahui Immunoglobulin G maupun Immunoglobulin M, Epstein-Barr virus (EBV) dan cytomegalovirus (CMV). Setiap Gibbon dan Macaca yang baru datang di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu Malang dilakukan uji serologi untuk mengetahui adanya infeksi herpes hominis ataupun simiae.

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by