|
V I S I

Oleh:
Drh. H. Awang Teja Satria
Praktisi Hewan Kesayangan
Malang - Jawa Timur
awang_ts@yahoo.com
Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil, Sudah Andalkah di Masyarakat?
Tak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan dan rasa bangga seorang praktisi hewan kecil adalah ketika si pasien berhasil sembuh dari sakit baik secara cepat atau lambat. Namun lebih dari itu ada hal yang lebih utama dan lebih dari sekedar menyembuhkan si pasien, yaitu manakala si pemilik hewan/klien yang sudah menganggap hewan peliharaannya merupakan bagian dari anggota keluarganya, juga mengalami kesembuhan secara psikis secara tidak langsung.
Di sinilah sebenarnya peran dwi fungsi kita yang tidak banyak disadari baik oleh kita sendiri apalagi oleh klien/masyarakat. Bagaimana kita bisa meningkatkan profesi kita sehingga bisa lebih dihargai di mata masyarakat, sementara hal-hal yang sepertinya sepele dari diri kita sendiri tidak diperhatikan, seperti: cara berpakaian kita, sikap/perhatian kita pada klien, suasana hati yg nyaman, dan lain-lainnya tidak disajikan dengan baik dan santun.
Pengalaman penulis di meja praktek sejak tahun 1990 sampai sekarang, rata-rata pemilik hewan/ klien mengalami gangguan psikis/stress ringan sampai berat ketika hewan-hewan mereka menderita sakit. Sehingga ada yang ikut menjadi sakit sampai berhari-hari, atau ada yang tidak bisa bekerja, tidak semangat di sekolah, ujian tidak lulus dan berbagai dampak buruk lainnya. Kejadian tersebut terutama terjadi pada klien yang benar-benar care terhadap hewan peliharaannya, khususnya lagi bagi klien yang sudah menganggap hewannya sebagai “anak asuh satu-satunya”.

Drh. Awang bersama dua ekor kucing.
Tak jarang penulis sering menjadi tempat curhat oleh si klien manakala “anak asuh” mereka menjadi sakit. Sepertinya klien tidak ingin sedikitpun “anak asuh” mereka sakit, apalagi sampai mati tentu mereka belum bisa menerima kenyataan yang terjadi. Ujung-ujungnya penulis menjadi sasaran atas kesedihan, kekesalan, dan penyesalan mereka. Lain halnya bila “anak-anak asuh “ mereka sehat atau sembuh dari sakit, terlihat klien ceria kembali, bisa bekerja lagi, bisa sekolah lagi, ujian berhasil baik dan sebagainya.
Inilah fenomena yang terjadi sesungguhnya. Dan dari tahun ketahun penulis mengamati bahwa oleh karena hubungan kedekatan antara klien dengan hewan peliharaannya nyaris tak ada garis pemisahnya, menyebabkan adanya ikatan emosional yang sangat erat. Sehingga respon yang kita berikan pada si klien dalam pelayanan profesi kita, tentunya dituntut untuk ekstra hati-hati dan lebih mengutamakan dampak psikisnya.
Memang pengetahuan dan pengalaman dalam pengobatan sangat diperlukan dan lebih dominan. Namun ada hal yang tak boleh dilupakan, yaitu Keseriusan , Kesabaran, dan Ketegaran dalam menghadapi berbagai karakter klien. Jika memang ini demikian ,barangkali ini merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan profesi kita sebagai praktisi hewan kesayangan/kecil , sehingga lebih bisa dikenal dimasyarakat tentang komunitas kita yang tidak hanya sekedar mengandalkan sebutan kebesaran nama profesi kita (seperti “Pak dokter" atau ”Bu dokter”) tapi kenyataannya belum bisa berbuat banyak dalam berperan sebagai dokter hewan praktisi hewan kecil. Sampai sekarang pun penulis masih introspeksi dan belajar menuju ke hal-hal tersebut di atas untuk menjadi lebih baik.
Semoga profesi kita dapat diandalkan oleh masyarakat, lebih ditingkatkan di masa yang akan datang, dan dapat lebih dihargai oleh masyarakat. Insya’ Allah. |