Edisi X
Januari 2008

HALO DOKTER HEWAN
- Selamat Tahun Baru

VISI
- Praktisi HewanKecil, Sudah Andalkah di Masyarakat?

WAWASAN
- Dairy Farming di Pakistan

PROFIL
- Drh, Pandu Tri Bakti

SATWA
- Satwa Liar Indonesia, Akan Segera Punah?

- Hari Kebebasan Lutung Jawa

UNGGAS
- Heat Stress Ayam

- Dilarang di Eropa, Dipromosikan di Asia

KLINIK
- LDA Correction

CONTINUING EDUCATION
- Teknik Sterilisasi Hewan Kecil Metode Flank & Middle Line

BRAIN DRAIN
- Datangkan Semua Orang

AKTIF
- Cat Show, Pameran Keindahan dan Kesehatan Kucing

PIDHI
- Bakti Sosial

VET FAMILY GATHERING
- Eratkan Kekeluargaan

POJOK
- PDHI dan Qurban


S A T W A


Oleh:
Drh. Wulan Andayani
PPS Petungsewu
Malang - Jawa Timur

Hari Kebebasan Lutung Jawa ke Habitatnya

Sungguh indah dan menakjubkan mahakarya ciptaan Tuhan. Berbagai keanekaragaman hayati telah tercipta sempurna di muka bumi ini. What a wonderful world!.

Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia, yang pasti ada manfaatnya. Hampir semua itu berada di alam Indonesia. Telah tercipta lebih dari 2000 jenis satwa liar Indonesia. Namun sayang sekali satwa tersebut hampir punah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Banyak sekali masyarakat yang memelihara satwa–satwa tersebut untuk kesenangan pribadi tanpa memperdulikan kelestarian alam. Seharusnya manusia lebih berpikir jernih untuk kelestarian planet bumi.


Lutung jawa yang telah dilepasliarkan  di S.M. Hyang.

Bagaimana cara menyayangi satwa–satwa tersebut? Tentunya dengan cara (manajemen) yang proporsional. Kita harus tahu apa yang mereka butuhkan sesungguhnya. Kita hanya bisa mengetahuinya dari tanda–tanda tingkah laku mereka karena mereka tidak dapat bicara. Agar kita dapat menyayangi satwa–satwa secara optimal, kita wajib mengetahui dan memahami tentang kesejateraan satwa/animal welfare (Five Freedom). Kelima kebebasan yang harus dimiliki oleh satwa tersebut adalah terbebas dari rasa haus, lapar dan kekurangan gizi; terbebas dari ketidaknyamanan secara fisik dan cuaca; terbebas dari rasa sakit, luka dan penyakit; bebas untuk mengekspresikan perilaku secara normal; dan yang terakhir adalah kebebasan terhadap rasa takut dan tertekan.

Jika dilihat pengaruhnya ke manusia, maka yang paling berbahaya adalah ketika mereka tidak bebas dari penyakit menular (Zoonosis). Beberapa penyakit menular yang berbahaya diantaranya Herpes, TBC, Hepatitis B, Scabies, Avian influenza, Rabies, Salmonellosis dan beberapa penyakit zoonosis lainnya. Keadaan tersebut membutuhkan monitoring dan pengendalian dengan cara pencegahan dan penanggulangan secara tepat dan cepat.

PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Petungsewu - Malang sebagai salah satu lembaga konservasi legal di Indonesia yang berfungsi sebagai tempat karantina sementara satwa– satwa dilindungi yang hampir punah keberadaannya, selama hampir lima tahun telah melakukan Hari KebebasanLutung Jawaperawatan dan rehabilitasi satwa untuk dikembalikan ke habitatnya. Pada Agustus 2007, yang merupakan bulan kemerdekaan negara kita, PPS Petungsewu memakai momen tersebut sebagai hari kebebasan sekelompok lutung jawa untuk dikembalikan ke habitat mereka, berdasarkan keputusan menteri kehutanan PP no. 733/Kpts- II/ 1999 tentang penetapan lutung jawa (Trachypithecus auratus) sebagai satwa dilindungi. Lutung jawa merupakan salah satu jenis primata asli jawa yang tingkat perdagangannya di masyarakat sangat tinggi.

Enam ekor lutung jawa yang terdiri dari seekor pejantan sebagai ketua kelompok (leader) yang dinamai Rama dan lima ekor betina sebagai anggota kelompoknya yang dinamai Shely, Sexy, Manggar, Rohaye dan Bunga berhasil dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Hyang, Probolinggo, Jawa Timur yang luasnya 14,145 ha. Sebelum dilepas, ada tiga aspek kegiatan yang di-lakukan oleh PPS Petungsewu, yaitu:

1. Aspek Biologi yang meliputi pengkajian taksonomi (evaluasi status taksonomi individu-individu yang akan dilepaskan ke alam), pengkajian kesehatan (satwa yang akan dilepasliarkan ke alam harus dipastikan terbebas dari penyakit menular berbahaya, dan pengkajian perilaku (behavior).

2. Aspek Habitat (kondisi bioekologis tempat pelepasliaran), yakni harus dalam wilayah historis penyebaran jenis yang akan dilepas maupun informasi lengkap tentang populasi liar sejenis.

3. Aspek sosial kemasyarakatan dan kerjasama seperti pemetaan tingkat gangguan keamanan hutan sebagai akibat dari ketergantungan masyarakat akan hutan.

Ketiga aspek tersebut yang paling penting adalah kesiapan satwa-satwa kandidat release karena kegiatan ini merupakan kegiatan jangka panjang. Sejak pertama tiba di PPS Petungsewu dan sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya dilakukan pemeriksaan kesehatan satwa (general medical check up). Satwa–satwa yang akan dikembalikan ke habitatnya telah dipastikan terbebas dari penyakit menular yang berbahaya. Jenis pemeriksaan yang dilakukan disesuaikan dengan kategori satwa yang akan dilepaskan.

Sebelum dilepas ke alam (release) ada masa yang disebut prerelease, meliputi:

a. Kondisi fisik satwa

b. Hematologi darah lengkap

c. Serologis: Hepatitis A (HAV, Anti HAV), Hepatitis B (HBS Ag, Anti HBsAg), Hepatitis C (HBC) dan Tuberkulosis (TB ICT)

d. Pemeriksaan parasit (feces)

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dilakukan oleh dokter hewan, dinyatakan bahwa keenam satwa lutung jawa kandidat release tersebut terbebas dari penyakit menular dan berbahaya.


Proses pemeriksaan medis, pemberian minum dan suplemen pada satwa.

Sebelum dilepas ke alam juga dilakukan observasi sekitar satu sampai tiga tahun untuk melihat tingkah laku (behavior) satwa apakah sudah berperilaku normal seperti satwa liar ketika di alam atau belum. Kegiatan ini meliputi pendekatan perilaku sosial, perilaku makan dan pemilihan jenis makanan yang mendekati alami, perilaku territorial, penggunaan ruang vertikal dan kepekaan terhadap gangguan di sekelilingnya baik yang datang dari manusia, predator ataupun individu sejenisnya. Sebelum siap dilepaskan ke alam, dilakukan penandaan dengan menggunakan nomor pada satwa yang akan dilepasliarkan (tagging) berupa microchip transponder dengan nomor seri yang ditentukan oleh pemerintah.

Pada tanggal 28 Agustus 2007 satu kelompok lutung jawa yang diketuai oleh Rama (nama seekor lutung jawa jantan) diberangkatkan dari PPS Petungsewu Malang sekitar pukul 9 pagi menuju ke desa Bremi Probolinggo menggunakan mobil patroli Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Selama perjalanan dilakukan pemeriksaan kondisi kesehatan satwa sebanyak dua kali dan pemberian minum serta buah–buahan untuk menghindari dehidrasi dan stress. Sesampai di pondok pendaki Bremi Probolinggo, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki dataran tinggi Hyang. Selama pendakian dilakukan empat kali pengecekan kondisi kesehatan satwa dan pemberian minum serta suplemen kepada satwa–satwa tersebut. Akhirnya sekitar pukul 5.30 sore saat matahari mulai terbenam satwa – satwa tersebut sampai di puncak blok hutan Taman Hidup dengan ketinggian 1.965 m dpl.

Sebelum dilepasliarkan satu kelompok lutung tersebut ditempatkan di dalam kandang pelepasan yaitu kandang adaptasi sebelum satwa dilepaskan yang berukuran 3 x 3 meter dan terbuat dari kayu. Selama dua hari lutung-lutung kelompok Rama beradaptasi dan mendapatkan pakan daun–daun yang diambil di sekitar kandang pelepasan serta dimonitoring kondisi kesehatannya.

Akhirnya tepat pada hari Jumat, tanggal 31 Agustus 2007 tibalah hari kebebasan itu dan pintu kandang pun dibuka. Satu persatu lutung jawa tersebut keluar dari dalam kandang, saking gembiranya beberapa dari mereka langsung meloncat dan memanjat pohon. Mereka dengan cepat bergelayutan dari pohon satu ke pohon yang lain serta memakan pucuk–pucuk daun yang masih berwarna hijau pupus. Andai saja mereka bisa berbicara maka mungkin saja mereka akan bersorak gembira dan berkata, “Horee…. Aku bebas!”.

Selama mereka beraktifitas, tim pelepasan terus memantau aktifitas mereka seperti memanjat, turun dari pohon, melompat dari pohon ke pohon, makan dan tetap terus mengikuti pergerakannya tanpa sepengetahuan mereka.


Proses keluarnya lutung jawa (kelompok Rama) dari kandang adaptasi.

Hari itu, setelah dilakukan pelepasliaran dan monitoring pasca pelepasan sampai tiba waktu tidur kelompok Rama, semua tim pelepasan yang bertugas kembali ke camp untuk istirahat dan kegiatan monitoring dilanjutkan keesokan harinya yang dilakukan selama tiga bulan. Monitoring pasca pelepasan bertujuan untuk memantau secara periodik pergerakan setiap individu dalam kelompok Rama serta didapatkannya data studi demografi untuk mengetahui perkembangan populasi, angka kelahiran, kematian, struktur umur, sex ratio maupun observasi perilaku.

Memang tidak mudah melepaskan satwa untuk kembali pulang ke habitatnya, membutuhkan rangkaian persiapan, pelaksanaan dan monitoring pasca pelepasan yang amat panjang. Selain itu tidak sedikit tenaga, dana dan waktu yang dibutuhkan. Namun betapa bahagianya ketika kita bisa melepasliarkan mereka kembali ke rumahnya (habitatnya) agar mereka mengenal kembali asalnya dan berfungsi untuk kelestarian alam yang tentunya juga demi keselamatan planet bumi yang kita tempati ini. Alam beserta isinya bukan warisan nenek moyang kita yang harus kita habiskan tapi alam ini merupakan titipan anak cucu kita yang harus kita jaga kelestariannya. Kalo bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya, kalo tidak sekarang kapan lagi kita menyelamatkan alam ini. Satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya adalah bagian dari lingkaran hidup dan kehidupan manusia. Tentunya ketika mereka tidak ada, maka sesungguhnya kehancuran manusia itu sendiri akan segera tiba.

Selamat datang kembali Rama di rumah yang selama ini kau cari, jaga baik–baik rumah dan teman–temanmu… Hiasi kembali kampung halamanmu agar nampak lebih indah dan lestari selamanya. Welcome to the paradise…!!!

 
Copyright © PDHI Cabang Jawa Timur II | Site by