|
U N G G A S

Oleh:
Drh. Ova Indriani
Praktisi Unggas
Blitar - Jawa Timur
ova_indri@yahoo.com
Heat Stress pada Ayam
Konvensi Perubahan Iklim yang digelar di Nusa Dua, Bali pada Desember 2007 lalu merupakan bagian dari mekanisme penyelamatan bumi dari ancaman pemanasan global yang efeknya sangat dirasakan akhir-akhir ini.
Benarkah hanya kita umat manusia yang menderita karena global warming? Ternyata jawabannya tidak. Hewan yang dipelihara secara intensif pun terbukti terkena dampak yang nyata.
Perubahan iklim menyebabkan fluktuasi suhu yang sangat signifikan. Sementara pada ayam yang dipelihara secara intensif baik itu ayam pedaging (broiler) maupun ayam petelur (layer) saat ini adalah hasil dari rekayasa genetik sehingga mampu berproduksi baik telur maupun daging secara maksimal. Hal ini menyebabkan ayam mempunyai kelemahan yaitu sensitifnya ayam terhadap stress. Suatu kondisi lingkungan yang tidak dapat ditoleransi ayam yang akan menimbulkan respon fisiologis yang abnormal disebut dengan heat stress.
Ayam melindungi tubuhnya dengan bulu-bulu yang akan mampu menahan dingin dan panas, akan tetapi ayam tidak mempunyai kelenjar keringat sehingga menggunakan mekanisme panting sebagai cara untuk mempertahankan suhu ideal apabila suhu lingkungan terlalu panas (diatas 30 C). Pada ayam yang dipelihara secara intensif seringkali manajemen perkandangan tidak mendapat perhatian serius. Kondisi ini akan memperburuk dampak heat stress pada ayam. Populasi yang berlebihan, kondisi ventilasi dan sirkulasi yang tidak ideal juga jarak kandang yang berdekatan seringkali terjadi. Heat stress akan berpengaruh pada penurunan nafsu makan (feed intake), meningkatnya konsumsi air minum dan meningkatnya frekuensi pernafasan.
Kondisi heat stress secara umum akan mempengaruhi produksi telur pada ayam petelur,dan menghambat kenaikan berat badan pada ayam pedaging. Selain itu kasus penyakit pernafasan akan semakin sering muncul, kotoran menjadi lebih basah dan pada kondisi yang lebih buruk akan menyebabkan kematian. Hal ini tentunya sangat merugikan industri peternakan.
Penanganan dan pencegahan kasus heat stress dapat dilakukan dengan memperhatikan manajemen perkandangan. Arah kandang dan jarak antar kandang adalah faktor utama dalam perencanaan apabila akan mendirikan kandang. Pohon pelindung juga akan banyak membantu. Kepadatan populasi yang ideal harus terus dijaga. Sementara itu ventilasi dan sirkulasi udara yang lancar akan meminimalkan resiko heat stress. Apabila kondisi diatas sudah dijalankan ternyata masih juga terjadi kasus heat stress, maka dapat diberikan vitamin C baik lewat pakan (dosis 500 gram/ton) atau melalui air minum (dosis 1 gram/5 liter air). Pemberian Sodium Bicarbonate, Protein sintesis (lysine atau metionin), analgetik antipiretik (asam salisilat) juga bisa membantu.
Tentunya pencegahan lebih baik dari pengobatan. Tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita memulai tindakan yang dapat mengurangi dampak pemanasan global. Menanam pohon dari halaman kita sendiri sudah sangat berarti daripada berjam-jam kita berbuih-buih mendiskusikan betapa menyedihkan ketika Guinness Book of World Records mencatat negeri kita ini sebagai penghancur hutan tercepat di dunia. |