|
W A W A S A N

Oleh:
Drh. Heru S. Prabowo
Veterinary Advisor
herusp@gmail.com, herusetyo@pddc.com.pk
Pakistan Dairy Development Company
State Cement Corporation Building
Kot Lakhpat, Lahore - Pakistan
www.pddc.com.pk
Dairy Farming di Pakistan?
Itu pertanyaan pertama kali yang ada di benak saya saat ada teman dari New Zealand yang menawari saya untuk bekerja di dairy industry di Pakistan. Bukan apa-apa, kita semua yang tahu negara lain dari layar TV atau berita di koran tentunya maklum dengan pertanyaan seperti itu. Stigma saat mendengar nama Pakistan adalah negara yang selalu ada konflik politik dari masa ke masa. Apakah benar bisa beternak perah di sana?
Singkat cerita, setelah melalui seleksi dan korespondensi, saya diundang untuk melihat-lihat Pakistan sebelum memutuskan menerima pekerjaan ini. Employer juga ingin berbicara dan melihat saya secara langsung. Siapa tahu apa yang saya tulis di application letter atau yang dikatakan oleh referee saya tidak sesuai dengan keinginan mereka. Alhasil, saya pun terbang ke Pakistan atas biaya mereka.

Sesampai di Pakistan -di Lahore khususnya- dan melihat salah satu peternakan di sudut kota Lahore, terus terang saya agak sedikit kaget. Ternyata 65% susu di Pakistan berasal dari kerbau. Sisanya dari sapi. Belum lagi situasi kota Lahore yang begitu kontras. Di salah satu bagian kota terlihat perumahan dan bangunan asri, tertata rapi, bersih dan hijau sedangkan di sudut kota yang lain pemandangan yang semrawut lalu lintasnya, banyak orang, kotor, kumuh, sampah dimana-mana. Lahore seperti Surabaya kalau di Indonesia. Kota terbesar kedua setelah Karachi. Membandingkan Surabaya dengan Lahore, menurut saya masih jauh lebih baik Surabaya. Saya 6 tahun tinggal di Surabaya. Mungkin kalau dilihat tata kotanya seperti Surabaya tahun 80-an dulu.
Dengan segala plus minusnya, akhirnya saya menerima tawaran mereka untuk bekerja 2 tahun di Lahore sebagai Veterinary Advisor. Perusahaannya bernama Pakistan Dairy Development Company atau biasa disebut Dairy Pakistan. Ini merupakan perusahaan bentukan pemerintah untuk mendukung program Revolusi Putih (White Revolution-Dhoodh Darya/Urdu).
Pakistan menurut statistik, mempunyai 53,8 juta sapi dan kerbau, dengan pertumbuhan 2,5 % pertahun. Dari jumlah total tersebut, 40% kerbau dikategorikan sebagai ternak perah (dairy) dan 31% sapi sebagai dairy. Produksi susunya 28,3 milyar liter pertahun menjadikannya sebagai penghasil susu terbesar ke 4 di dunia. Produksi susu kerbau perlaktasi 1.450 liter dan sapi 2.353 liter. (FAOSTATS, 2003).

Ternak perah tersebar di 4 propinsi; Punjab, Sindh, Balochistan, dan NWFP (North West Frontier Province). Kepemilikan ternak perahnya rata-rata kecil, 90% nya kurang dari 20 ekor per peternak, termasuk pedet dan daranya. Kerbau yang menjadi kerbau perah terutama adalah breed Nili Ravi sedangkan sapinya adalah Sahiwal, Cholestani, Red Sindhi, crossbred sapi lokal dengan Holstein atau Jersey. Ada crossbred yang secara khusus di kembangkan di Australia yang disebut AFS (Australian Fresian Sahiwal) crossbred antara Sahiwal dan Friesian.
Pakistan mempunyai 4 musim, winter, summer, autumn dan spring. Meski begitu, sebagian besar waktu di Pakistan adalah summer. Salah seorang peternak yang saya temui mengatakan, musim di Pakistan hanya 2 yaitu 8 bulan panas dan 4 bulan agak panas. Pada puncak musim panas yang terjadi di bulan Juni, Juli dan Agustus, suhu siang hari bisa mencapai 45 C. Di beberapa wilayah di Balochistan dan Sindh malah bisa sampai 50 C!. Bisa dibayangkan seperti apa ternak perah pada kondisi seperti itu.
Sensitifitas terhadap panas ini yang membedakan antara ternak impor (Holstein dan Jersey-Bos taurus) dengan ternak lokal (Sahiwal, Red Sindhi dan Cholestani-Bos indicus) terhadap ketahanan mereka akan stress panas. Ternak lokal mempunyai ketahanan panas yang bagus sedangkan ternak impor tidak. Meskipun pada kondisi yang panas semua ternak mempunyai masalah dengan stress panas, tetapi ternak lokal relatif kecil pengaruhnya dibanding ternak impor.Kandang yang menjadi model farm PDDC mengadopsi desain yang bisa menurunkan efek dari stress panas ini dengan cara pemasangan kipas angin dan semprot air di dalam kandang (water sprinkler).

Peternak tradisional Pakistan umumnya mengikat sapinya di pinggir-pinggir jalan atau di tanah mereka dengan pakan utama jerami gandum yang dicacah (wheat straw) dengan akses ternak ke air minum yang sangat terbatas. Bayangkan, pada musim panas, ternak dijemur di panas 45 C dengan air minum yang dibatasi. Tidak heran bila rata-rata produksi susu mereka hanya 3-4 liter per ekor.
Susu kerbau lebih disukai daripada susu sapi. Susu kerbau lebih kental dengan lemak 7% dan SNF 9% dengan TS 16%, dibandingkan susu sapi dengan 3,5% lemak dan 8,7% SNF dengan TS 12,2%. Susu umumnya langsung dijual ke “dhoodhy” atau pengepul susu melalui proses penjualan informal. Sebanyak 97% susu peternak dijual lewat pengepul susu ini dan hanya 3% yang diproses lewat pabrik. Harga yang didapat peternak lewat dhoodhy adalah sekitar Rs 25 – 30 (sekitar Rp 3.750-4.500) sedangkan pabrik hanya menerima mereka dengan harga Rs 15 – 18 (sekitar Rp 2.250-2.700).
Karena penjualan susu melewati jalur informal, kontrol kualitas relatif lebih sulit dilakukan. Dhoody hanya membeli berdasar liter dan kualitas susu sangat jarang dipertimbangkan. Hal ini meningkatkan kesempatan terjadinya pemalsuan susu (milk adulteration) dengan penambahan bahan lain untuk meningkatkan volume susu. Belum lagi masalah hygiene susu selama dipeternakan atau di rantai penjualan lebih lanjut.
Hampir semua penduduk Pakistan adalah peminum susu. Saya lihat, kebiasaan minum susu ini tidak pandang tingkat kemapanan mereka secara ekonomi. Kalau kita bertamu ke peternak, suguhannya adalah “chay” atau teh dan semua teh dicampur susu. Makanan juga begitu, banyak makanan yang mengandung susu atau yoghurt. Kalau saya bandingkan, kebiasaan minum susu kita kalah jauh dengan masyarakat Pakistan.
Organisasi formal yang menaungi peternak di Pakistan belum ada. Peternak jalan sendiri-sendiri dengan sistem yang berlaku secara alamiah. Koperasi seperti yang kita punya di Indonesia masih baru taraf wacana dan rencana, kalau saya boleh bilang. Hal itu yang agaknya menyulitkan upaya kita untuk meningkatkan semua hal tentang dairy karena mau tidak mau kita harus berhubungan dengan masing-masing peternak.

Masalah manajemen peternakan perah yang paling utama adalah reproduksi dan kesehatan hewan. Calving interval kerbau rata-rata adalah 2 tahun, bahkan ada beberapa yang sampai 3 tahun. Mereka umumnya tidak begitu paham dengan pentingnya kebuntingan pada ternak perah. Setelah melahirkan, mereka tidak segera dikawinkan lagi. Atau inseminator yang melakukan inseminasi tidak melakukannya dengan seharusnya. Semen handling, pengecekan nitrogen, teknik thawing dan lain-lain tidak dilakukan dengan benar sehingga kemungkinan ternak menjadi bunting setelah inseminasi kecil. Saya ada pengalaman yang menarik, yaitu saat melakukan kunjungan ke peternak dan kebetulan sapinya sedang berahi, peternak memanggil inseminator dan meminta saya melakukan inseminasi. Container nitrogen yang dibawa inseminator tidak ada tutupnya sehingga nitrogen menguap dan kosong. Tentunya spermanya mati. Ada lagi yang lebih menarik, inseminator yang tidak mempunyai container nitrogen portable, mengambil straw dari container, dimasukkan ke dalam saku dan dibawa ke peternak naik motor untuk diinseminasikan!
Masalah kesehatan hewan yang paling utama adalah stress panas, pinjal (ticks) dan FMD. Pada puncak musim panas akan banyak sekali masalah kesehatan hewan yang muncul sebagai akibat sekunder dari stress panas tersebut. Ternak impor biasanya yang paling terpengaruh. Abortus, Babesiosis, Anaplasmosis biasanya muncul pada musim panas pada sapi impor. Mereka tidak tahan pinjal (ticks) sehingga menderita penyakit akibat pinjal sendiri (anemia) atau parasit darah yang ditularkan lewat pinjal (red water disease-ticks fever). Di Pakistan masih banyak ditemukan penyakit mulut dan kuku (FMD-Foot and Mouth Disease). Belum ada langkah pengendalian yang masif dari pemerintah untuk mengontrol FMD.
Seperti kita tahu, ada beberapa strain virus FMD yaitu A, O, C, SAT yang masing-masing tidak sama secara imunologi. Artinya, satu sapi masih bisa terserang FMD dengan strain berbeda meskipun sudah pernah di vaksin sebelumnya. Kebanyakan vaksin produksi pemerintah Pakistan adalah monovalen yang hanya bisa melindungi dari satu strain virus saja.
Penyakit lain yang berhubungan dengan cuaca adalah HS (Haemorrhagic Septicaemia). Kalau kita menyebutnya SE (Septicaemia Epizooticae) atau shipping fever. Penyakit pernafasan yang dsebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Juga banyak terjadi saat musim panas atau pergantian musim.
Pakistan Dairy Development Company (PDDC atau Dairy Pakistan) mempunyai tugas untuk membuat perbaikan pada dairy industry di Pakistan yang situasinya kurang lebih seperti yang saya jelaskan diatas. Keseluruhan program untuk memperbaiki sektor persusuan di Pakistan disebut Revolusi Putih (White Revolution). PDDC merupakan salah satu dari beberapa lembaga yang didirikan pemerintah untuk maksud tersebut.
Mulai aktif awal tahun 2007 dengan program pertama membuat 1000 model farm setiap tahun. Model farm adalah sebuah farm milik rakyat yang dibantu oleh PDDC untuk membuat desain kandangnya sesuai dengan tuntutan iklim Pakistan. PDDC memberi bantuan kepada peternak 50% dan sisanya dikembalikan oleh peternak selama 3 tahun.
Peternak yang mengikuti model farm program harus mengikuti saran yang diberikan oleh PDDC. Ternak tidak boleh diikat, akses bebas ke air 24 jam, dan perbaikan kualitas pakan. Kandang akan didesain agar ternak bebas berkeliaran didalam kandang (free stall), cukup ventilasi dan instalasi untuk mengurangi stress panas dengan kipas angin dan sprinkler air.
Setelah instalasi dan desain selesai, peternak akan menerima advis teknis manajemen dairy dari Farm Production Officer (FPA) yang terdiri dari pegawai lokal Pakistan mulai dokter hewan, sarjana peternakan, agronomi, master nutrisi dan lain-lain.Tahap kedua dari program PDDC adalah ke susunya yaitu mulai penyediaan cooling tank seperti TPS kita dan peningkatan kesadaran peternak akan hygiene susu. Pasteurisasi susu juga masuk dalam tahap kedua. Pembentukan community farm (seperti KUD susu kita) saat ini sedang kita bahas mulai penyusunan konsep sampai realisasi pembentukannya.Tahap ketiga sudah mulai ke arah long term. Seperti mulai memperbaiki mutu genetic local breed, laboratorium untuk dairy dan beberapa program lain.
Ada sekitar 20 expat yang ada di jajaran manajemen. Kebanyakan adalah praktisi dairy dari New Zealand dan Australia. Dan Indonesia tentunya.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu travelling mengunjungi semua penjuru Pakistan. Tidak seperti teman lain yang mempunyai area tertentu sebagai wilayah kerjanya, saya lebih leluasa karena tidak ada batasan wilayah. Mulai ujung utara Pakistan di NWFP sampai ujung selatan di Karachi. Tugas utama saya adalah bagaimana transfer ilmu tentang dairy management bisa terjadi baik ke peternak maupun ke dokter hewan. Sehingga mereka memahami bagaimana mengelola peternakan mereka menjadi menguntungkan dari sudut pandang kesehatan hewan dan reproduksi. Lebih pada soft skill.
Terus terang, keilmuan tentang sapi perah saya tidak berkembang secara vertikal, artinya makin dalam tentang sapi perah tetapi lebih berkembang secara horizontal. Lebih kepada “tahu lebih banyak daripada tahu lebih dalam”.Saya pikir bagus juga eksistensi saya diantara New Zealander dan Australian. Menjadikan Indonesia disebut dalam kosakata dairy di Pakistan.
Ternyata dokter hewan Indonesia bisa juga berbicara di level internasional, berdiri sejajar dengan ahli lain dari Australia dan New Zealand. Hal ini juga poin positif bagi dairy industry di Indonesia karena di image mereka, dairy industry kita sudah lebih baik dari Pakistan.
Pada banyak hal, memang kita lebih baik. Pada beberapa hal tertentu, sepertinya kita harus mulai menumbuhkan rasa kebanggaan kita sebagai bagian dari Indonesia. |